Menteri LH Soroti Pengelolaan Sampah, DLH Balikpapan Tekankan Perubahan Perilaku

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Kunjungan mendadak (sidak) Menteri ke Kota Balikpapan baru-baru ini menyoroti pengelolaan sampah perkotaan dari hulu hingga hilir. Meski tanpa pemberitahuan resmi sebelumnya kepada pemerintah kota, pemkot menilai kunjungan tersebut menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap isu sampah di daerah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pihaknya mengetahui agenda kunjungan tersebut melalui pemberitaan media. Lokasi yang dikunjungi mencakup permukiman warga, pasar tradisional, hingga kampung binaan pengelolaan lingkungan.

“Saya membaca dari berita, Pak Menteri melihat langsung pengelolaan sampah di beberapa titik, seperti Kampung Penisi, kawasan permukiman, Pasar Baru, Pasar Pandansari, hingga salah satu kampung binaan. Itu menunjukkan perhatian terhadap pengelolaan sampah dari sumbernya,” ujar Sudirman, Rabu.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata. Sampah merupakan residu dari aktivitas rumah tangga, perdagangan, industri, hingga konstruksi, sehingga melibatkan banyak pihak.

“Pengelolaan sampah itu multidimensi. Bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga masyarakat, dunia usaha, dan swasta. Pemerintah menyiapkan sistem, tapi kunci utamanya ada pada perubahan perilaku,” katanya.

Sudirman menjelaskan, Pemerintah Kota Balikpapan selama ini menitikberatkan kebijakan pada upaya perubahan pola perilaku masyarakat. Selain sosialisasi dan edukasi, pendekatan jangka panjang dilakukan melalui sektor pendidikan dengan memasukkan pengelolaan sampah sebagai muatan lokal, termasuk praktik pembuatan kompos di sekolah.

Dari sisi capaian, Balikpapan telah memenuhi target pengurangan sampah nasional sebesar 30 persen pada 2025 sesuai kebijakan strategis nasional sebelumnya. Namun, ia menilai target pengelolaan sampah yang lebih ambisius pada periode pemerintahan saat ini memerlukan tahapan dan dukungan yang memadai.

“Target besar itu baik sebagai visi, tapi pelaksanaannya tidak bisa simsalabim. Daerah butuh waktu, strategi, dan dukungan anggaran yang memadai,” ujarnya.

Saat ini, Balikpapan terus memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah, termasuk pembangunan tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Selain itu, bank sampah yang sempat mengalami penurunan aktivitas pascapandemi kembali diaktifkan dan kini jumlahnya telah berkembang menjadi lebih dari 200 unit.

“Yang terpenting bukan hanya membangun, tapi memastikan sistem itu berjalan. Semua pihak pasti ingin kotanya bersih. Tapi untuk mencapainya, kita butuh kesabaran, konsistensi, dan kerja bersama,” pungkas Sudirman.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses