Panen Padi Kaltim Naik 8,5 Persen, Stok Beras Menguat dan Harga Lebih Stabil di 2025

Panen Demonstration Plot (Demplot) padi di Gapoktan Bukit Biru, Kutai Kartanegara (Kukar), Jumat (12/9/2025). / Pemprov Kaltim
Panen Demonstration Plot (Demplot) padi di Gapoktan Bukit Biru, Kutai Kartanegara (Kukar), Jumat (12/9/2025). / Pemprov Kaltim

SAMARIDA, Inibalikpapan.com – Produksi padi Kalimantan Timur sepanjang 2025 meningkat signifikan. Data BPS menunjukkan panen yang lebih luas mendorong produksi beras naik, memberi harapan baru bagi stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama bagi warga kota seperti Samarinda dan Balikpapan yang bergantung pada pasokan daerah sekitar.

Panen Padi Kaltim Meningkat, Produksi Ikut Terdongkrak

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 66,52 ribu hektare. Angka ini naik 5,51 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 63,04 ribu hektare.

Kenaikan luas panen ini berbanding lurus dengan produksi. Sepanjang 2025, produksi padi Kaltim mencapai 270,87 ribu ton gabah kering giling (GKG), meningkat 21,23 ribu ton atau 8,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bulan September Jadi Penopang Utama Produksi

Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan bahwa puncak produksi padi terjadi pada September 2025, dengan total produksi mencapai 67,68 ribu ton GKG.

Sebaliknya, produksi terendah terjadi pada Januari, hanya sekitar 0,87 ribu ton GKG. Pola ini menunjukkan bahwa ketergantungan produksi masih tinggi pada musim panen utama, sehingga distribusi dan cadangan menjadi faktor penting menjaga pasokan sepanjang tahun.

Kutai Kartanegara, Paser, dan PPU Jadi Lumbung Padi

Secara wilayah, Kutai Kartanegara, Paser, dan Penajam Paser Utara (PPU) menjadi tiga daerah penyumbang produksi padi terbesar di Kalimantan Timur sepanjang 2025.

Sementara itu, daerah perkotaan seperti Balikpapan dan Bontang, serta wilayah Mahakam Ulu, masih mencatat produksi terendah. Kondisi ini menegaskan ketergantungan kota-kota besar terhadap pasokan beras dari kabupaten penyangga.

Produksi Beras Naik, Dampaknya Terasa ke Konsumen

Jika dikonversikan untuk konsumsi, produksi padi tersebut setara dengan 157,55 ribu ton beras sepanjang 2025. Jumlah ini naik 12,34 ribu ton dibandingkan 2024.

Produksi beras tertinggi juga terjadi pada September, mencapai 39,36 ribu ton, sedangkan terendah pada Januari hanya sekitar 0,50 ribu ton. Kenaikan produksi ini menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga ketersediaan beras dan menahan lonjakan harga di tingkat konsumen.

Awal 2026, Potensi Panen Masih Menjanjikan

Memasuki awal 2026, BPS memperkirakan potensi luas panen padi pada Januari–Maret mencapai 25,20 ribu hektare. Angka ini meningkat 24,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika tren ini terjaga, pasokan beras Kalimantan Timur dinilai masih cukup kuat untuk menopang kebutuhan pangan daerah, termasuk kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kenaikan produksi padi bukan sekadar angka statistik. Bagi warga, ini berarti pasokan beras yang lebih aman, harga lebih terkendali, dan ketergantungan impor antar-daerah yang bisa ditekan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan distribusi dan cadangan tetap stabil, agar manfaat panen benar-benar dirasakan hingga ke meja makan masyarakat. / Pemprov

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses