Pemerintah Jamin Stok BBM & LPG Aman Hingga Lebaran, Impor Dialihkan ke Amerika
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pemerintah memastikan ketahanan energi nasional berada dalam kondisi prima menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Bahlil melaporkan bahwa ketersediaan stok energi, mulai dari minyak mentah (crude), LPG, hingga bahan bakar minyak (BBM) siap pakai, masih berada di atas batas minimal cadangan nasional.
Cadangan BBM: RON 90 hingga Avtur Dipastikan Aman
Masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik tidak perlu khawatir akan kelangkaan bahan bakar. Bahlil menjamin seluruh jenis BBM untuk transportasi darat maupun udara dalam kondisi aman.
- Jenis BBM: Stok mencukupi untuk RON 90 (Pertalite), RON 92 (Pertamax), RON 98 (Pertamax Turbo), Solar, hingga Avtur.
- Strategi: Pemerintah terus mengoptimalkan kilang dalam negeri melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP).
- Dampak: Penyelesaian RDMP diklaim mampu mengurangi impor bensin hingga 5,5 juta ton dan solar sebanyak 3,5 juta ton.
Strategi LPG: Lepas Ketergantungan dari Timur Tengah
Menghadapi dinamika geopolitik global, pemerintah melakukan langkah berani dengan mendiversifikasi negara pemasok LPG. Saat ini, skema impor LPG Indonesia telah mengalami pergeseran besar:
- Amerika Serikat: Menjadi pemasok utama dengan porsi 70%.
- Timur Tengah: Dikurangi menjadi 20%.
- Lainnya: 10% dipasok dari negara lain seperti Australia.
“Dengan kondisi sekarang, porsi dari Timur Tengah kita pecah lagi untuk diambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain guna memastikan pasokan tetap stabil,” jelas Bahlil di hadapan Presiden dan jajaran menteri.
Kedaulatan Energi Melalui Produksi Domestik
Selain impor, Bahlil menegaskan fokus pemerintah pada penguatan kedaulatan energi melalui pencampuran biodiesel dan peningkatan kapasitas kilang domestik. Strategi ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor jika lifting (produksi minyak siap jual) nasional belum mencapai target 1,6 juta barel per hari.
“Langkah strategis ini dilakukan agar selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan lifting kita tidak membebani neraca perdagangan secara berlebihan,” pungkasnya optimis. / Setneg
BACA JUGA
