Perang Sarung Rawan Terjadi Selama Ramadan, Kapolresta Balikpapan Perintahkan Patroli Diperketat
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, suasana dini hari di Kota Balikpapan kembali menjadi perhatian aparat keamanan. Selepas sahur hingga menjelang subuh, jam-jam yang seharusnya khusyuk justru dalam beberapa tahun terakhir kerap dimanfaatkan sebagian remaja untuk aksi perang sarung dan balap liar.
Fenomena ini bukan sekadar kenakalan biasa. Dari evaluasi Ramadan sebelumnya, terdapat korban luka serius bahkan cedera permanen akibat perang sarung yang menggunakan benda keras di dalam kain.
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold H.Y. Kumontoy, menegaskan bahwa strategi pengamanan telah disusun lebih dini.
“Perang sarung sering dianggap permainan biasa. Namun dari pengalaman sebelumnya, ada korban yang mengalami luka serius bahkan cedera permanen. Ini tentu tidak bisa dianggap sepele,” ujar Jerrold.
Balap Liar Saat Menunggu Subuh Jadi Sorotan
Selain perang sarung, balap liar di sejumlah ruas jalan juga menjadi fokus pengawasan. Aktivitas ini biasanya muncul saat remaja menunggu waktu subuh atau setelah melaksanakan salat.
Aksi tersebut dinilai berisiko tinggi, bukan hanya bagi pelaku tetapi juga pengguna jalan lain yang melintas di waktu yang sama.
Sebagai langkah pencegahan, jajaran Bhabinkamtibmas akan meningkatkan patroli dan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan. Pendekatan dilakukan dengan menggandeng tokoh masyarakat serta orang tua.
“Kami mengimbau orang tua memastikan anak-anaknya tidak keluar rumah tanpa tujuan jelas dan tidak terlibat dalam kelompok yang berpotensi melakukan tindakan berbahaya,” tegasnya.
Pendekatan yang ditempuh tidak semata represif. Polresta Balikpapan mengedepankan langkah persuasif dan edukatif agar Ramadan menjadi momentum memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan.
Ramadan Harus Aman, Bukan Menjadi Ajang Risiko
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini seharusnya menjadi waktu memperkuat kepedulian sosial dan menjaga ketertiban bersama.
Polresta juga mengajak masyarakat yang menjalankan aktivitas ngabuburit untuk mendukung pelaku UMKM lokal dengan tetap mematuhi aturan lalu lintas. Ketertiban ruang publik dinilai sebagai tanggung jawab bersama.
Jerrold menekankan keamanan lingkungan tidak bisa terwujud tanpa partisipasi aktif warga.
“Sekecil apa pun potensi gangguan harus segera dicegah. Kolaborasi antara polisi dan masyarakat menjadi kunci,” ujarnya.
Dengan penguatan patroli, edukasi, serta sinergi lintas elemen, Polresta berharap Ramadan di Kota Minyak berlangsung aman, tertib, dan damai.
Di bulan suci inilah cinta menemukan maknanya yang paling sederhana: menjaga satu sama lain dari bahaya, menguatkan dalam kebaikan, dan menghadirkan rasa aman sebagai bentuk kepedulian nyata.
BACA JUGA
