Puluhan Anak di Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Ungkap Sejumlah Fakta
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Aparat antiteror mengingatkan bahaya serius yang kini mengintai anak-anak Indonesia. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat sedikitnya 70 anak di berbagai wilayah Indonesia terpapar paham radikal Neo-Nazi, sebuah ideologi ekstrem berbasis kekerasan dan supremasi ras yang menyusup melalui konten global tanpa filter memadai.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa keterbukaan akses digital tanpa pengawasan ketat membuat anak-anak mudah terpapar ideologi berbahaya tersebut.
“Karena akses global kemudian terbuka dan memang tidak, apa namanya, tidak ter-cover oleh filter yang ada di negara kita,” kata Mayndra di Mabes Polri, Rabu (7/1/2025).
Menyasar Anak Lewat Video dan Komunitas Online
Menurut Densus 88, penyebaran paham Neo-Nazi tidak terjadi secara instan. Anak-anak biasanya terpapar melalui video daring yang tampak biasa, lalu diarahkan masuk ke komunitas tertentu melalui tautan lanjutan di deskripsi atau kolom komentar.
“Kalau di YouTube, kemudian ada narasinya di bawah itu, ya itu kan di deskripsinya kemudian mereka bikin link, misalnya,” ujarnya.
“Jadi setelah nonton itu, ‘ayo bergabung dengan True Crime Community’, dia klik link itu lalu dia masuk, ya salah satunya seperti itu,” imbuhnya.
Setelah masuk ke komunitas tertutup, konten yang dikonsumsi tidak lagi sekadar tontonan, tetapi sudah mengarah pada glorifikasi kekerasan, ajakan ideologis, hingga pembenaran tindakan ekstrem.
Dari Ideologi Lama ke Tren Baru Anak Muda
Mayndra menjelaskan, Neo-Nazi sejatinya merupakan ideologi lama yang berkembang di Eropa, Amerika, dan Rusia. Namun kini paham tersebut mengalami “metamorfosis” dan menyasar generasi muda lintas negara, termasuk Indonesia.
Salah satu ciri yang kerap muncul adalah penggunaan istilah “Natural Selection”, yang berakar dari teori Charles Darwin, namun disimpangkan untuk membenarkan superioritas kelompok tertentu.
“Kalau kita tarik dari teori Charles Darwin, arti dari natural selection yakni orang atau makhluk yang paling mampu beradaptasi adalah yang superior,” jelasnya.
Pemahaman keliru ini, kata Mayndra, memicu proses dehumanisasi, di mana kelompok di luar lingkaran mereka dianggap bukan manusia.
“Orang-orang yang tidak terafiliasi dengan kelompoknya dianggap bukan manusia, makanya dengan serta-merta terjadi kekejian-kekejian itu. Nah, ini yang menjadi driving force dari paham tersebut,” tandasnya.
Kasus Nyata: Dari Sekolah hingga Remaja
Densus 88 mengungkapkan, paparan paham Neo-Nazi tidak lagi sebatas wacana daring. Beberapa kasus nyata sudah terjadi, mulai dari insiden ledakan di SMA 72 Jakarta hingga penangkapan seorang anak di Garut yang terindikasi terpapar ideologi tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman radikalisme terhadap anak-anak bukan lagi isu jauh, melainkan telah masuk ke ruang keluarga, sekolah, dan gawai sehari-hari.
Densus 88 menegaskan, tanpa penguatan filter konten dan literasi digital, anak-anak berisiko menjadi sasaran empuk ideologi kekerasan global. Peran orang tua, sekolah, dan negara dinilai krusial untuk mengenali pola penyebaran serta mencegah anak terjerumus lebih jauh.
BACA JUGA
