Ramadan 2026, Harga Pangan Balikpapan Dijaga Ketat: Telur dan Beras Jadi Perhatian Utama

Ramadan 2026, Harga Pangan Balikpapan Dijaga Ketat: Telur dan Beras Jadi Perhatian Utama
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Setiap jelang Ramadan, satu hal yang paling ditunggu warga Balikpapan bukan hanya jadwal puasa, tapi juga: apakah harga beras, telur, dan cabai akan naik? Untuk mengantisipasi lonjakan, TPID Balikpapan bersama PPU dan Paser bergerak lebih awal memperkuat pasokan dan distribusi pangan.

Langkah ini diambil karena awal 2026 diwarnai ketidakpastian ekonomi global dan potensi cuaca ekstrem yang bisa memengaruhi produksi pangan.

Permintaan bahan pokok biasanya melonjak menjelang Ramadan dan Idulfitri. Sementara Balikpapan bukan daerah produksi utama, melainkan kota konsumsi dengan permintaan tinggi. Jika distribusi terganggu atau pasokan tersendat, harga bisa bergerak cepat.

Karena itu, TPID wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser menggelar High Level Meeting (HLM) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Rabu (18/2/2026), guna memastikan stok aman sebelum tekanan harga terjadi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, dalam pengantarnya menegaskan bahwa peningkatan operasional SPPG-MBG di 2026 perlu diantisipasi dengan matang agar tidak memicu gejolak harga. Salah satu langkahnya melalui fasilitasi kerja sama pasokan antara produsen dan distributor pangan dengan mitra SPPG-MBG, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal dalam menu MBG.

Strateginya sederhana: bergerak sebelum harga melonjak, bukan setelahnya.

Balikpapan Hitung Kebutuhan Riil Warga

Wali Kota Balikpapan menegaskan penyusunan neraca pangan menjadi prioritas. Artinya, kebutuhan riil warga dihitung detail lalu disesuaikan dengan kemampuan suplai dari daerah sekitar.

Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan PPU dan Paser diperkuat, termasuk pelibatan Perumda sebagai BUMD pangan untuk menjaga stabilitas pasokan.

Sebagai kota penyangga IKN dengan aktivitas ekonomi tinggi, stabilitas harga di Balikpapan menjadi krusial bagi kawasan sekitarnya.

PPU dan Paser Jadi Penyangga Pasokan

Pemkab PPU telah lebih dulu melakukan monitoring pasar tradisional dan toko modern pada 9 dan 12 Februari 2026. Operasi Pasar Murah juga digelar di Sepaku pada 27 Januari 2026, disusul Gerakan Pangan Murah di Desa Karang Jinawi dan Bukit Subur.

Fokusnya pada pendekatan 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.

Sementara itu, Paser mendorong peningkatan produksi telur ayam ras lewat program “Paser BERAKSI”. Produksi telur yang meningkat ini menjadi penyangga penting, mengingat telur termasuk komoditas yang sering memicu inflasi saat permintaan naik.

MoU Pasokan: Kontrak Sebelum Lonjakan

Dalam pertemuan tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU pasokan antara mitra SPPG-MBG dengan produsen dan distributor pangan.

Di Balikpapan, lima mitra menjalin kerja sama dengan enam produsen/distributor. Di PPU, empat mitra bekerja sama dengan satu produsen tahu.

Kerja sama ini dirancang agar pasokan tetap berkelanjutan saat permintaan meningkat pada Hari Besar Keagamaan Nasional.

Targetnya Satu: Harga Tetap Terkendali

HLM menyepakati tiga fokus utama: pastikan stok aman jelang Ramadan dan Idulfitri, perkuat kerja sama daerah penyangga dan dorong kontrak pasokan jangka menengah
Bagi warga Balikpapan, pesan utamanya jelas: pemerintah daerah dan BI bergerak lebih awal untuk menjaga dapur tetap aman.

Karena bagi banyak keluarga, stabilitas harga bukan sekadar angka inflasi—tapi soal tenang berbelanja saat Ramadan tiba.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses