Sebut Video Viral Hasil Potongan, Jusuf Kalla Buka Peluang Dialog Terkait Laporan GAMKI

Eks Wapres Jusuf Kalla. [Suara.com/Tim Media JK]

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pihak mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait laporan yang diajukan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik ke Polda Metro Jaya. Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan bahwa pernyataan yang viral di media sosial telah dipotong dan disalahartikan.

Husain meminta para pelapor untuk mengkaji secara utuh isi ceramah tersebut sebelum melangkah lebih jauh ke ranah hukum, karena narasi yang berkembang saat ini dianggap melenceng dari substansi aslinya.

Bukan Pendapat Pribadi, Melainkan Realitas Konflik

Husain menjelaskan bahwa pernyataan JK saat mengisi ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah sebuah lesson learned atau pembelajaran mengenai proses perdamaian konflik di masa lalu, seperti di Poso dan Ambon.

“Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai pada saat kerusuhan Poso dan Ambon, atau realitas sosiologis saat terjadi konflik. Bukan pendapat pribadi Pak JK,” tegas Husain, Senin (13/4/2026), dilansir dari suara.com jaringan inibalikpapan.

Menurutnya, JK sedang menggambarkan situasi sosiologis saat itu di mana kedua belah pihak yang berkonflik kerap menggunakan jargon agama—baik Islam maupun Kristen—dengan anggapan keliru bahwa membunuh lawan akan membawa mereka ke surga. Pemahaman menyimpang itulah yang justru ingin diluruskan oleh JK saat itu demi menghentikan pertumpahan darah.

Meluruskan Paradigma: “Kalian Masuk Neraka”

Husain membeberkan bahwa dalam ceramahnya, JK justru menceritakan cara beliau menyadarkan para kombatan saat itu agar berhenti saling membunuh.

“Pak JK menyampaikan kepada kelompok yang bertikai bahwa mereka semua akan masuk neraka jika saling membunuh, karena tidak ada agama yang mengajarkan tindakan demikian. Beliau berupaya mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik,” lanjut Husain.

Data yang disampaikan JK dalam ceramah tersebut menunjukkan besarnya dampak konflik masa lalu, dengan korban jiwa mencapai 2.000 orang di Poso dan 5.000 orang di Ambon. Pernyataan JK justru bertujuan menegaskan bahwa tindakan kekerasan atas nama agama adalah sebuah kekeliruan besar.

Buka Ruang Dialog untuk Penjernihan

Terkait laporan polisi yang menuduh adanya unsur penistaan agama, pihak Jusuf Kalla menyatakan siap untuk membuka ruang komunikasi. Husain Abdullah menilai dialog adalah cara yang lebih jernih untuk menemukan akar permasalahan.

“Dialog akan lebih jernih untuk menemukan akar masalah. Jika memang diperlukan, boleh saja. Namun, saya akan komunikasikan terlebih dahulu kepada Pak JK karena beliau saat ini masih berada di luar kota,” pungkasnya.

Langkah dialog ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang utuh kepada semua pihak dan mencegah kegaduhan yang lebih besar di masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses