Semarang: Antara Candu Kuliner, Kota Toleran, dan Fenomena Parkir Liar
SEMARANG, Inibalikpapan.com – Semarang bukan sekadar titik singgah bagi saya. Setelah berkali-kali hanya melintas saat menuju Jepara atau hendak terbang ke Balikpapan, dua bulan terakhir saya memutuskan untuk benar-benar “menghirup” udara Kota Lumpia ini lebih lama.
Ada rasa betah yang tumbuh di kota yang dijuluki Venetie van Java ini. Namun, sebagai pendatang yang kini menetap, ada realitas sehari-hari yang sempat membuat saya “geleng-geleng kepala”.
Realitas “Uang Receh” di Setiap Tikungan
Satu hal yang paling mencolok di Semarang adalah menjamurnya parkir liar. Hampir di setiap pemberhentian atau “lapak” jajanan, sapaan juru parkir tak pernah absen. Tarifnya bervariasi, mulai dari Rp2.000, Rp3.000, hingga Rp5.000 di titik-titik wisata populer seperti Lawang Sewu, Simpang Lima, dan Kota Lama.
Menariknya, pemandangan ini kontras dengan gerai ritel modern seperti Indomaret atau Alfamart di Semarang yang justru relatif bersih dari juru parkir liar. Sebuah anomali yang membuat saya sering memilih mampir ke sana demi menghindari “pajak tak resmi” tersebut.
Fenomena sosial di jalanan Semarang—mulai dari parkir liar, manusia silver, hingga badut di lampu merah—sebenarnya potret dari besarnya magnet ekonomi kota ini. Berdasarkan data Databoks, jumlah kendaraan di Semarang mencapai 1,99 juta unit per Mei 2025.
Banyak pekerja dari daerah penyangga (komuter) yang menggantungkan hidup di sini. Dari obrolan saya dengan driver ojol hingga kurir paket, mereka datang ke Semarang saat matahari terbit dan baru kembali ke daerah asal saat malam tiba.
Alasan Untuk Tetap Jatuh Cinta
Meski didera isu parkir dan kemacetan, Semarang tetap memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Ada harmoni yang terasa nyata di sini. Tak heran jika Semarang meraih Harmony Award 2025 dan duduk di peringkat ke-3 Indeks Kota Toleran (IKT) 2024.
Bukti nyata toleransi itu terlihat dengan terpilihnya Agustina Wilujeng Pramestuti, sebagai Wali Kota. Meski dia, penganut Katolik di kota dengan mayoritas Muslim. Ini adalah simbol kedewasaan beragama warga Semarang yang luar biasa.
Semarang jugam enyandang predikat kota paling nyaman kelima di Indonesia. Keamanan yang terjaga, kerukunan yang hangat, dan tentu saja kekayaan kuliner yang menggugah selera adalah alasan kuat mengapa siapa pun akan jatuh cinta pada kota ini.
Semarang adalah bukti bahwa sebuah kota bisa tetap nyaman di tengah hiruk-pikuk dinamika sosialnya.
Sumber : teddyrumengan.com
BACA JUGA
