Seskab Teddy Klarifikasi Soal Indonesia yang Diminta Iuran Triliunan untuk Board of Peace

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/2/2026). [Dok. Biro Pers Istana]

JAKARTA, inibalikpapan.com – Isu dana USD 1 miliar yang isunya berkaitan dengan keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP) menuai pertanyaan publik. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan, dana tersebut bukan iuran wajib. Serta tidak membebani negara karena punya tujuan khusus bagi rekonstruksi warga Gaza.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan klarifikasi terkait posisi Indonesia di Board of Peace (BoP). Penjelasan ini ia sampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan para mantan menteri luar negeri, tokoh politik, dan akademisi di Istana Merdeka.

Melalui keterangan tertulis, Teddy menjelaskan bahwa keanggotaan Indonesia dalam forum tersebut bersifat tidak tetap. Indonesia memiliki kedaulatan penuh untuk menarik diri sewaktu-waktu jika perlu.

Teddy juga meluruskan isu mengenai dana USD 1 miliar yang ramai publik bicarakan. Ia menegaskan bahwa dana tersebut bukan iuran keanggotaan.

“Mengenai biaya USD 1 miliar tersebut diperuntukkan bagi dana rekonstruksi Gaza dan sifatnya tidak wajib,” ujar Teddy, Rabu (4/2/2026), dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Saat ini, Indonesia bergabung bersama tujuh negara mayoritas Muslim lainnya. Yakni Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Pakistan. Menurut Teddy, mekanisme keanggotaan BoP berdasar pada kontribusi finansial yang bersifat opsional.

“Negara anggota diperbolehkan membayar atau tidak. Jika membayar, akan menjadi anggota tetap. Namun, jika tidak membayar, keanggotaan berlangsung selama tiga tahun. Saat ini, Indonesia belum melakukan pembayaran,” jelasnya.

Klaim sebagai Langkah Konkret

Teddy menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP merupakan langkah konkret untuk terlibat langsung dalam upaya menghentikan konflik di Palestina, bukan sekadar partisipasi formal dalam forum internasional.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan arah diplomasi luar negeri Indonesia yang berfokus pada capaian nyata. Salah satunya adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS.

“Indonesia telah bergabung dengan BRICS yang beranggotakan kekuatan ekonomi dunia seperti Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India,” kata Teddy.

Selain itu, Teddy menyebut sejumlah capaian strategis lain, mulai dari penetapan tarif dagang nol persen di 27 negara Uni Eropa, kesepakatan pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi, hingga peran Indonesia dalam perjanjian perdamaian Palestina.

“Indonesia mencatat sejarah dengan menandatangani perjanjian perdamaian Palestina. Pascapenandatanganan tersebut, jumlah konflik dan korban dilaporkan berkurang secara signifikan,” pungkasnya.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses