Sinopsis Film ‘Kuyank’ yang Dibintangi Rio Dewanto, Angkat Horor Folklor Legendaris dari Kalimantan
JAKARTA, inibalikpapan.com – Film horor Kuyank resmi mengisi kepingan awal semesta Saranjana: Kota Ghaib. Namun alih-alih sekadar menghadirkan teror folklor kepala terbang, film garapan Johansyah Jumberan ini justru menempatkan tragedi manusia sebagai sumber horor utamanya.
Diproduksi DHF Entertainment dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 29 Januari 2026, Kuyank mengambil latar tujuh tahun sebelum kisah Saranjana dimulai. Ceritanya berpusat pada Badri dan Rusmiati, pasangan suami istri yang terjebak dalam tekanan sosial untuk segera memiliki keturunan—tekanan yang perlahan menggerus cinta, nalar, dan batas moral.
Rusmiati berada dalam posisi paling rapuh. Ia menghadapi penolakan dari ibu mertua sekaligus ketakutan ditinggalkan sang suami. Di tengah kondisi terdesak, ia memilih jalan gelap dengan mempelajari ilmu hitam Kuyang demi mempertahankan cinta dan kecantikan.
Keputusan itu menjadi awal rangkaian teror yang menghantui desa, terutama para ibu hamil.
“Di Kuyank, teror tidak datang mendadak. Ia tumbuh dari cinta yang ditekan, dari keputusan yang makin sempit, sampai akhirnya berubah menjadi kutukan,” kata produser Victor G. Pramusinto, melansir Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Cerita Aktor
Bagi Rio Dewanto, memerankan Badri menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menguasai dialek Banjar atau Kandangan yang menjadi identitas kuat film ini.
“Uncle Jo selalu hadir saat pendalaman karakter. Kalau ada bahasa di skenario yang pengucapannya kurang pas, langsung direvisi di tempat. Jadi kita enggak kehilangan arah,” tutur Rio.
Syuting yang berlangsung lebih dari sebulan di Kalimantan justru meninggalkan kesan hangat bagi Rio dan kru. Alih-alih mengalami gangguan mistis, mereka merasa “diteror” oleh kebaikan warga sekitar.
“Hampir tiap hari kita dikirimin makanan. Kadang saking banyaknya sampai bingung, akhirnya kita bagi-bagi lagi. Seru banget,” ujar Rio sambil tertawa.
Cerita itu dibenarkan Johansyah Jumberan.
“Makanan itu enggak henti-henti. Sate bisa sampai seratus tusuk, nasi bakar tujuh puluh. Luar biasa. Terima kasih banget sama warga Kalimantan, kita jadi gemuk semua,” bebernya.
Aktris Ochi Rosdiana, yang memerankan Fauziah, juga merasakan dampak kuat karakter yang ia mainkan. Perannya sempat memicu asumsi netizen sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Badri dan Rusmiati.
“Aku perusak sih, tapi bukan perusak seperti yang dibayangin. Kalian harus nonton dulu. Jadi jangan hujat aku dari sekarang,” ucap Ochi berseloroh.
Syuting yang berlangsung pada September–Oktober 2024 itu juga mempertemukan Ochi dengan kuliner Banjar yang tak ia sangka akan disukainya.
“Aku enggak suka ikan. Tapi ikan patin Banjar itu enak banget, enggak bau tanah,” ungkapnya.
Digarap Skala Besar
Dari sisi produksi, Kuyank digarap dengan skala yang jauh lebih besar dibanding film pendahulunya. Johansyah menyebut timnya bahkan membawa peralatan kamera seberat 1,5 ton dari Jakarta karena keterbatasan fasilitas di lokasi.
“Kami enggak main-main. Produksi ini berkali-kali lipat dari Saranjana. Sekitar 50–60 persen set rumah kita bangun sendiri demi visual yang maksimal,” jelasnya.
Totalitas itu juga dirasakan Putri Intan Kasela yang harus menjalani adegan ekstrem dimasukkan ke dalam gentong berisi air dan dihanyutkan di sungai pada dini hari.
“Yang paling berkesan pas masuk gentong. Jam tiga pagi, masuk gentong, terus dihanyutin di sungai. Alhamdulillah aman karena dijaga warga akamsi,” kenangnya.
Dengan horor yang tumbuh dari tekanan sosial, relasi keluarga, dan pilihan manusia yang keliru, Kuyank menawarkan teror yang lebih sunyi sekaligus lebih dekat dengan realitas. Film ini dibintangi Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, Barry Prima, Dayu Wijanto, dan Jolene Marie.***
BACA JUGA
