Waspada Kemarau Mulai April 2026 dan Lebih Kering, Puncaknya Agustus!

kebakaran hutan dan lahan
kebakaran hutan dan lahan

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait prakiraan musim kemarau tahun 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki masa kering lebih awal dibandingkan rerata biasanya akibat berakhirnya fenomena La Niña Lemah yang bergeser ke fase Netral.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi karena adanya potensi kemunculan fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026 yang dapat memperparah kekeringan.

Pemicu Kemarau Maju: Transisi ke El Niño

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa indeks ENSO saat ini berada di angka -0,28 (Netral). Namun, terdapat peluang sebesar 50-60% munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat pada semester kedua tahun ini.

Penanda dimulainya kemarau adalah beralihnya Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia). Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia akan mulai kering sejak April 2026.

Jadwal Masuk Musim Kemarau 2026

BMKG merinci persebaran wilayah yang mulai memasuki musim kemarau sebagai berikut:

  • April 2026 (16,3%): Pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
  • Mei 2026 (26,3%): Meliputi 184 Zona Musim (ZOM).
  • Juni 2026 (23,3%): Meliputi 163 Zona Musim (ZOM).

Secara total, awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi MAJU atau lebih cepat dari biasanya. Wilayah yang terdampak kemarau maju ini mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, hingga Papua.

Puncak Kemarau Agustus 2026: Lebih Kering dan Lebih Panjang

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 yang mendominasi 61,4% wilayah Indonesia.

  • Sifat Musim: Sebanyak 64,5% wilayah akan mengalami kemarau Bawah Normal (lebih kering dari biasanya).
  • Durasi: Sebanyak 57,2% wilayah diprediksi akan mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih panjang dari normalnya.

Langkah Antisipasi: Pangan hingga Karhutla

Menanggapi risiko kekeringan ekstrem, BMKG menekankan beberapa aksi nyata bagi pemerintah dan masyarakat:

  1. Sektor Pangan: Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air serta tahan kekeringan.
  2. Manajemen Air: Revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air bersih untuk kebutuhan domestik dan PLTA.
  3. Lingkungan: Kesiapsiagaan sektor kehutanan untuk mencegah potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penurunan kualitas udara.

“Informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) untuk meminimalkan risiko bencana,” pungkas Faisal, dalam siaran pers BMKG

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses