Wisata Waduk Manggar Dinilai Punya Potensi Besar, Pasar Terapung Jadi Daya Tarik Baru
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Munculnya berbagai inisiatif wisata berbasis masyarakat di kawasan Waduk Manggar, Kilometer 14–15 Balikpapan, mendapat apresiasi dari Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Balikpapan, Joko Purwanto.
Ia menilai kreativitas warga dalam mengembangkan destinasi wisata menjadi kunci utama pertumbuhan pariwisata sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Menurut Joko, pariwisata sejatinya lahir dari ide dan kreativitas masyarakat dalam menciptakan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan.
Kehadiran sejumlah spot wisata baru di Waduk Manggar dinilai mampu memperkaya pilihan destinasi, tanpa harus saling bersaing satu sama lain.
“Pariwisata itu soal kreativitas. Bagaimana masyarakat menciptakan destinasi yang punya ciri khas. Apa yang muncul di kawasan Kilometer 14–15 ini sangat membantu pengembangan wisata Balikpapan dan patut diapresiasi,” ujar Joko, yang juga menjabat sebagai Ketua Indonesia Tourism Promotion Board (ITPB), Ketua INTUA Indonesia, dan Ketua AITA Indonesia.
Salah satu destinasi yang disorot adalah kawasan wisata di Km 14 yang menawarkan panorama waduk dengan lanskap alam yang masih terjaga. Joko menilai, jika dikembangkan secara berkelanjutan, kawasan tersebut berpotensi menjadi ikon baru wisata Balikpapan.
Ia bahkan mengusulkan pengembangan konsep pasar terapung sebagai daya tarik unggulan. Menurutnya, hingga kini Kalimantan Timur belum memiliki pasar terapung yang benar-benar menjadi ikon wisata.
“Wisatawan yang datang ke Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, selalu bertanya: di mana pasar terapung? Padahal tamu hotel itu market yang sudah ada di depan mata. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” jelasnya.
Joko menekankan pentingnya sinergi antardestinasi agar tidak saling mematikan. Setiap lokasi wisata diharapkan menghadirkan konsep yang berbeda sehingga saling melengkapi.
“Jangan membuat wisata yang sama. Destinasi yang dibangun masyarakat harus saling menunjang, bukan bersaing. Orang datang ingin melihat banyak hal yang berbeda,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki multiplier effect yang kuat. Manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pengrajin, hingga sektor jasa.
Balikpapan, kata Joko, tidak memiliki sumber daya alam tambang, sehingga pariwisata berbasis ekowisata menjadi pilihan strategis. Selain menggerakkan ekonomi, konsep ini juga menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap lingkungan.
Menghadapi kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN), Joko optimistis pasar wisata Balikpapan semakin besar. Ia menilai, destinasi lokal harus bersiap sejak dini.
“Market sudah jelas ada di depan mata. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri. Jika destinasi semakin banyak dan berkualitas, masyarakat tidak perlu keluar daerah untuk berwisata,” pungkasnya.***
BACA JUGA
