Cerita Perempuan Balikpapan Kembangkan ‘Bleu by Astrid’, UMKM Rajut yang Tumbuh di Tengah Industri Fast Fashion (1)
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Di tengah industri fast fashion yang serba cepat dan seragam, produk kerajinan tangan masih menemukan tempatnya. Ketika pakaian dan aksesori diproduksi massal dalam waktu singkat, sebagian pelaku usaha memilih bertahan dengan proses yang lebih lambat, terbatas, dan dikerjakan dengan tangan.
Di Balikpapan, Kalimantan Timur, pilihan itu dijalankan Astrid Victoria (45) lewat bisnis kecil yang ia beri nama Bleu by Astrid, sebuah usaha rajut yang berkembang dari skala rumahan. Berbasis di Jalan Marsma R. Iswahyudi Sepinggan, Balikpapan Selatan, kegiatan produksi berlangsung setiap hari dari ruang yang awalnya hanya digunakan untuk kegiatan pribadi.
Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah tinggal biasa. Namun di bagian dalam, gulungan benang warna-warni tersusun di sudut ruangan. Proses merajut berjalan pelan, mengikuti ritme tangan masing-masing pengrajin.
Usaha ini digagas oleh Astrid sekitar tujuh tahun lalu. Sebelum 2019, ia mengisi waktu luang dengan merajut sebagai kegiatan pribadi. Ia mengikuti kelas dasar di Balikpapan, lalu memperdalam keterampilan melalui workshop, termasuk secara daring.
Perubahan terjadi ketika ia menyadari keterampilan serupa ada di orang-orang di sekitarnya. Ibunya dan sejumlah perempuan lanjut usia (lansia) di lingkungan rumah ternyata pernah belajar merajut sejak muda. Keterampilan itu kemudian ia hidupkan kembali dalam aktivitas bersama yang perlahan berkembang menjadi produksi.
“Awalnya Bleu by Astrid ini dibikin dari hobi saya. Ternyata mama saya, oma-oma di sekitar rumah itu bisa merajut,” kata Astrid.
Dari situ, produksi kecil mulai berjalan. Astrid awalnya hanya membuatkan produk untuk keluarga dan kerabat. Namun setelah membuka penjualan melalui media sosial, permintaan mulai datang dari luar, termasuk dari Rumah BUMN Pertamina.
“Awalnya belum jadi brand, cuma bikinkan buat yang pesan. Lama-kelamaan banyak permintaan di Balikpapan, akhirnya jadilah brand Bleu by Astrid,” ujarnya.
Dari Muda hingga Lanjut Usia
Pada tahap awal, produksi mereka kerjakan oleh delapan pengrajin di sekitar rumah. Seiring meningkatnya permintaan, jumlah pengrajin bertambah menjadi sekitar delapan hingga dua belas orang. Paling tua usia 75 dan termuda 22 tahun. Dalam pesanan tertentu, Astrid juga melibatkan puluhan pengrajin lain di Balikpapan untuk memenuhi target produksi.
Dalam kondisi normal, kapasitas produksi berkisar antara 50 hingga 100 item per bulan. Namun jumlah tersebut dapat meningkat ketika ada pesanan dalam skala besar.
“Kemarin baru dapat souvenir ratusan tas simple dalam dua minggu. Karena saya mengajar, jadi bisa bantu kerahkan banyak pengrajin,” kata Astrid.
Produk yang mereka hasilkan mencakup gantungan kunci, boneka rajut (amigurumi), hingga tas dengan tingkat kerumitan yang beragam. Harga gantungan kunci berkisar antara Rp30.000 hingga Rp125.000, sementara boneka rajut dan tas tertentu dapat mencapai Rp200.000 hingga Rp400.000, tergantung ukuran dan detail pengerjaan.
Setiap produk mereka buat dengan pendekatan yang tidak seragam. Variasi warna dan motif menjadi ciri utama, dan tidak ada upaya untuk memproduksi ulang desain secara persis.
“Tidak dibuat ulang persis. Pasti ada perbedaan,” ujar Astrid.
Selain penjualan ritel, pesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan suvenir perusahaan menjadi salah satu sumber permintaan utama. Produk Blue by Astrid juga beredar di sejumlah titik penjualan di Balikpapan, seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan galeri, serta melalui platform daring.
Tantangan Usaha
Dalam pengembangannya, usaha ini menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah pengrajin terampil di Balikpapan.
“Dari workshop tiga sampai lima hari bisa kelihatan siapa yang bisa. Kami pilih yang rapi dan mau kerja sama,” kata Astrid.
Di sisi lain, bahan baku utama berupa benang sebagian besar masih datang dari Pulau Jawa, yang berdampak pada biaya produksi.
Perkembangan Blue by Astrid juga mendapat dukungan oleh program kemitraan. Setelah menjadi mitra binaan Pertamina dan BI Balikpapan, usaha ini mendapatkan pelatihan di bidang pemasaran digital dan manajemen keuangan, serta kesempatan mengikuti pameran nasional seperti SMEXPO dan Inacraft.
Sejumlah produknya bahkan telah sampai ke luar negeri oleh pelanggan, antara lain ke Australia dan Singapura, meski belum melalui menempuh jalan ekspor secara formal.
“Untuk memenuhi standar ekspor, produk harus benar-benar bagus, siap dokumen, dan harga disesuaikan,” kata Astrid.
Di tengah arus produksi massal yang menekankan kecepatan dan keseragaman, Blue by Astrid memilih mempertahankan cara kerja yang lebih pelan dan terbatas. Dari ruang sederhana itu, satu per satu produk lahir, mengikuti waktu dan tangan yang mengerjakannya.***
BACA JUGA
