Cerita Perempuan Balikpapan Kembangkan ‘Bleu by Astrid’, UMKM Rajut yang Tumbuh di Tengah Industri Fast Fashion (1)

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, pilihan itu dijalankan Astrid Victoria (45) lewat bisnis kecil yang ia beri nama Bleu by Astrid, sebuah usaha rajut yang berkembang dari skala rumahan. (Foto: Samsul/Inibalikpapan)

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Di tengah industri fast fashion yang serba cepat dan seragam, produk kerajinan tangan masih menemukan tempatnya. Sebagian pelaku usaha memilih bertahan dengan proses yang lebih lambat, terbatas, dan dikerjakan dengan tangan namun penuh ketelitian.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, pilihan itu dijalankan Astrid Victoria (45) lewat bisnis kecil yang ia beri nama Bleu by Astrid. Ini merupakan usaha rajut yang berkembang dari skala rumahan. Berbasis di Jalan Marsma R. Iswahyudi, Rt 26 no 528 Kelurahan Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan, kegiatan produksi berlangsung setiap hari dari ruang yang awalnya hanya digunakan untuk kegiatan pribadi.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa. Namun di bagian dalam lantai dua tempat tersebut, terdapat berbagai produk kerajinan tangan. Gulungan benang warna-warni tersusun di sudut ruangan. Proses merajut berjalan pelan, mengikuti ritme tangan masing-masing pengrajin.

Usaha ini digagas oleh Astrid sekitar tujuh tahun lalu. Sebelum 2019, ia mengisi waktu luang dengan merajut. Ia mengikuti kelas dasar di Balikpapan, lalu memperdalam keterampilan melalui workshop, baik online mau pun termasuk offline.

Perubahan terjadi ketika ia menyadari keterampilan serupa ada di orang-orang di sekitarnya. Ibunya dan sejumlah perempuan lanjut usia (lansia) di lingkungan rumah ternyata pernah belajar merajut sejak muda. Keterampilan itu kemudian ia hidupkan kembali dalam kegiatan bersama yang perlahan berkembang menjadi bisnis rumahan.

“Awalnya Bleu by Astrid ini dibikin dari hobi saya. Ternyata mama saya, oma-oma di sekitar rumah itu bisa merajut,” kata Astrid.

Dari situ, produksi kecil mulai berjalan. Astrid awalnya hanya membuatkan produk untuk keluarga dan kerabat. Namun setelah membuka penjualan melalui media sosial, permintaan mulai datang dari luar, termasuk dari Rumah BUMN Pertamina, Bank Indonesia Balikpapan dan instansi lainnya.

“Awalnya belum jadi brand, cuma bikinkan buat yang pesan. Lama-kelamaan banyak permintaan di Balikpapan, akhirnya jadilah brand Bleu by Astrid,” ujarnya.

Dari Muda Hingga Lanjut Usia

Astrid dan Nuke pekerja muda lulusan SMK
Astrid dan Nuke (22) pekerja muda lulusan SMK

Ketika awal merintis, produksi mereka kerjakan oleh delapan pengrajin di sekitar rumah. Seiring meningkatnya permintaan, jumlah pengrajin bertambah hingga dua belas orang. Paling tua usia 75 dan termuda 22 tahun atau lintas generasi.

Dalam beberapa kali kesempatan, Astrid juga melibatkan puluhan pengrajin lain di Balikpapan untuk memenuhi target produksi. Kondisi normal, kapasitas produksi berkisar antara 50 hingga 100 item per bulan. Namun jumlah tersebut dapat meningkat ketika ada pesanan dalam skala besar.

“Kemarin baru dapat souvenir ratusan tas simple dalam dua minggu. Karena saya mengajar, jadi bisa bantu kerahkan banyak pengrajin,” kata Astrid.

Produk yang mereka hasilkan mencakup gantungan kunci, anting-anting rajut, boneka rajut (amigurumi), tamplak meja, cover tumbler, kerajinan makrame(mengayam) hingga tas dengan tingkat kerumitan yang beragam. Dibantu Nuke dan rekanya, Astrid juga membuat outer/rompi/baju luaran dengan memanfaatkan bahan-bahan perca/sisa jahitan tidak terpakai menjadi barang berguna.

Harga gantungan kunci berkisar antara Rp30.000 hingga Rp125.000, sementara boneka rajut dan tas tertentu dapat mencapai Rp200.000 hingga Rp400.000, tergantung ukuran dan detail pengerjaan.

Setiap produk mereka buat dengan pendekatan yang tidak seragam. Variasi warna dan motif menjadi ciri utama, dan tidak ada upaya untuk memproduksi ulang desain secara persis.

“Tidak dibuat ulang persis. Pasti ada perbedaan,” ujar Astrid.

Selain penjualan ritel, pesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan suvenir perusahaan menjadi salah satu sumber permintaan utama. Produk Bleu by Astrid juga beredar di sejumlah titik penjualan di Balikpapan, seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan galeri, serta melalui platform daring.

Tantangan Usaha dan Buka Kelas Workshop

Dalam pengembangannya, usaha ini menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah pengrajin terampil di Balikpapan. Astrid mengaku bukan hanya sekedar membuka usaha dengan melibatkan kamu usia lanjut tapi juga usia dini. Tapi juga berbagi pengetahuan melalui praktek langsung atau wokshop. Pembelajaran ini dapat dilakukan di sekolah, di workshop ataupun melalui kerjasama dengan pihak lain seperti sekolah, dinas atau corporate bahkan pribadi.

Melalui pembelajaran langsung ini, diapun mendapatkan calon-calon pengrajin yang memang dinilai memiliki talent/bakat untuk diajak bekerjasama terutama saat ada pesanan besar.

“Dari workshop tiga sampai lima hari bisa kelihatan siapa yang bisa. Kami pilih yang rapi dan mau kerja sama,” kata Astrid.

Bleu by Astrid beberapa kali kedatangan anak-anak pelajar yang ingin belajar secara pribadi di tokonya. ketika mereka datang dan melihat langsung, ada ketertarikan untuk mencoba membuat langsung rajutan boneka. “Beberapa kali saya ajarkan mereka belajar. ternyata anak-anak senang sekali memang lucu rajutan boneka itu,” ceritanya.

Di sisi lain, bahan baku utama berupa benang sebagian besar masih datang dari Pulau Jawa, yang berdampak pada biaya produksi. Namun hal itu bukan halangan, yang terpenting adalah dapat memberdayakan masyarakat sekitar termasuk para ibu-ibu dan lansia.

Produknya kini bukan hanya disenangi masyarakat lokal tapi juga tamu dari luar yang sedang berada di Indonesia atau Balikpapan. Alasana bilang Astrid mereka suka selain karena produk buatan tangan, jumlahnya pun terbatas, tidak sama dan rapi.

Tak heran, eksistensi Bleu by Astrid juga mendapat dukungan oleh program kemitraan. Mereka menjadi mitra binaan Pertamina dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan. Usaha yang dikembangkan Astrid ini mendapatkan pelatihan di bidang pemasaran digital dan manajemen keuangan, serta kesempatan mengikuti pameran nasional seperti SMEXPO dan Inacraft.

Sejumlah produknya bahkan telah sampai ke luar negeri oleh pelanggan, antara lain ke Australia dan Singapura, meski belum melalui menempuh jalan ekspor secara formal.

“Untuk memenuhi standar ekspor, produk harus benar-benar bagus, siap dokumen, dan harga disesuaikan,” kata Astrid yang sedang membidik pasar luar negeri. *** (bersambung)

Penulis: Amir Syarifuddin & Donny Muslim

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses