Dari Tangan-Tangan Lansia, UMKM Balikpapan ‘Bleu by Astrid’ Bertumbuh dan Kini Menuju Pasar Luar Negeri (2)

Usaha kerajinan tangan (handmade) Bleu by Astrid tidak hanya menjadi ruang produksi kerajinan rajut, tetapi juga ruang bagi perempuan lanjut usia untuk tetap berkarya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi dari rumah. (Foto: Samsul/Inibalikpapan)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Usaha kerajinan tangan (handmade) Bleu by Astrid tidak hanya menjadi ruang produksi kerajinan rajut, tetapi juga ruang bagi perempuan lanjut usia untuk tetap berkarya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi dari rumah.

Di kawasan Sepinggan, Balikpapan Selatan, usaha handmade yang dirintis Astrid Victoria (45) ini mempertemukan dua generasi: pengrajin muda yang sedang belajar, dan para lansia yang telah membawa keterampilan merajut sejak puluhan tahun lalu.

Di dalam rumah yang difungsikan sebagai tempat produksi, aktivitas berjalan pelan. Beberapa perempuan duduk berdekatan, tangan mereka mengait benang demi benang, mengikuti pola yang sudah mereka hafal. Televisi menyala di latar, sesekali diselingi percakapan singkat sebelum kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Sebagian dari mereka bukan pendatang baru dalam dunia rajut. Keterampilan itu sudah mereka kenal jauh sebelum usaha ini berdiri.

Omah Mimi (75), misalnya, mulai merajut sejak usia 30-an setelah belajar dari orang tuanya di Surabaya. Ia mempelajari teknik tersebut secara otodidak—melihat, meniru, lalu mengulang hingga terbiasa. Cara itu masih ia pertahankan hingga sekarang.

Dalam proses produksi, ia memilih mengerjakan satu jenis produk saja, yakni tas rajut. Bagi Mimi, itu bukan tanpa alasan.

“Kalau lain lagi nanti lupa,” ujarnya singkat.

Untuk menyelesaikan satu tas, ia membutuhkan waktu sekitar empat hari. Namun pengerjaan tidak selalu dilakukan sekaligus. Ia menyesuaikan dengan kondisi di rumah, mengerjakan sedikit demi sedikit.

Kesalahan tetap terjadi. Saat perhatian terpecah, misalnya ketika menonton televisi, rajutan yang sudah setengah jadi bisa keliru dan harus dibongkar ulang. “Pernah. Dibongkar dari awal lagi,” katanya.

Ia kemudian mengulang dari awal, mengikuti pola yang sama. Untuk membantu penglihatan, terutama saat malam hari, ia memilih menggunakan benang berwarna terang. “Biar malam bisa merajut,” ujarnya.

Di sisi lain ruangan, Laili Yati (68), yang akrab disapa Omah Tony, juga bekerja dengan ritme yang serupa. Ia sudah mengenal rajut sejak melahirkan anak pertamanya, dimulai dari membuat pinggiran kain.

“Menjahit pinggir-pinggir popok anak itu,” kenangnya sembari terkekeh.

Sejak itu, keterampilan tersebut terus ia gunakan. Kini, dalam satu minggu, ia biasanya menyelesaikan satu produk. Ia tidak bekerja tanpa jeda—setelah dua hingga tiga jam, ia berhenti sejenak untuk berdiri dan mengurangi pegal, lalu kembali melanjutkan.

“Saya suka juga merajut, isi waktu. Saya sendiri sudah sendiri. Anak-anak jauh-jauh,” ujarnya.

Selain tas, ia juga mengerjakan produk berukuran kecil seperti wadah tumbler. Pilihan itu ia sesuaikan dengan kenyamanan dan kemampuan yang ia miliki.

Kehadiran para lansia ini menjadi bagian penting dalam produksi Blue by Astrid. Mereka bekerja berdampingan dengan pengrajin lain yang usianya lebih muda, dengan kemampuan dan kecepatan yang berbeda-beda.

Dalam keseharian, perbedaan itu terlihat dari produk yang dikumpulkan satu per satu, sesuai tahap penyelesaian masing-masing.

Perjalanan Bleu by Astrid

Sejak awal, usaha yang dirintis sejak 2019 ini hanya melibatkan delapan pengrajin di sekitar rumah. Kini, jumlahnya berkembang menjadi sekitar dua belas orang, dengan tambahan tenaga ketika pesanan meningkat.

Kini, produk yang mereka hasilkan mencakup gantungan kunci, boneka rajut (amigurumi), hingga tas dengan tingkat kerumitan yang beragam. Harga gantungan kunci berkisar antara Rp30.000 hingga Rp125.000, sementara boneka rajut dan tas tertentu dapat mencapai Rp200.000 hingga Rp400.000, tergantung ukuran dan detail pengerjaan.

Setiap produk mereka buat dengan pendekatan yang tidak seragam. Variasi warna dan motif menjadi ciri utama, dan tidak ada upaya untuk memproduksi ulang desain secara persis.

Selain penjualan ritel, pesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan suvenir perusahaan menjadi salah satu sumber permintaan utama. Produk Bleu by Astrid juga beredar di sejumlah titik penjualan di Balikpapan, seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan galeri, serta melalui platform daring.

Sejumlah produknya bahkan telah sampai ke luar negeri oleh pelanggan, antara lain ke Australia dan Singapura, hingga Puerto Rico meski belum melalui menempuh jalan ekspor secara formal.

“Untuk memenuhi standar ekspor, produk harus benar-benar bagus, siap dokumen, dan harga disesuaikan,” kata Astrid.***

Penulis: Amir Syarifuddin & Donny Muslim

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses