Dari Tangan-Tangan Lansia, UMKM Balikpapan ‘Bleu by Astrid’ Bertumbuh dan Kini Menuju Pasar Luar Negeri (2)
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Usaha kerajinan tangan (handmade) Bleu by Astrid tidak hanya menjadi ruang produksi kerajinan rajut, tetapi juga ruang bagi perempuan lanjut usia untuk tetap berkarya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi dari rumah.
Beralamat di Jalan Marsma R. Iswayudi Rt 26 no 528 Kelurahan Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan, usaha handmade yang Astrid Victoria (45) rintis ini mempertemukan dua generasi. Yakni pengrajin muda yang sedang belajar, dan para lansia yang telah membawa keterampilan merajut sejak puluhan tahun lalu.
Sejak awal, usaha yang berdiri sejak 2019 ini hanya melibatkan beberapa pengrajin lansia di sekitar rumah. Kini, jumlahnya berkembang menjadi sekitar dua belas orang, mulai dari generasi muda, ibu-ibu hingga lansia. Bleu juga kerap menggunakan tenaga tambahan ketika pesanan meningkat.
Produk yang mereka hasilkan makin beragam bukan hanya rajutan saja tapi juga anyaman dan kemeja, rompi. Bleu juga memberdayakan pekerja muda untuk membuat rompi yang banyak menggunakan kain perca. Namun produk utama tetap handmade rajutan. Seperti gantungan kunci berkisar antara Rp30.000 hingga Rp125.000, sementara boneka rajut dan tas tertentu dapat mencapai Rp200.000 hingga Rp400.000, tergantung ukuran dan detail pengerjaan.
Setiap produk mereka buat dengan pendekatan yang tidak seragam. Variasi warna dan motif menjadi ciri utama, dan tidak ada upaya untuk memproduksi ulang desain secara persis.
Selain penjualan ritel, pesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan suvenir perusahaan menjadi salah satu sumber permintaan utama. Produk Bleu by Astrid juga beredar di sejumlah titik penjualan di Balikpapan, seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan galeri, serta melalui platform daring.
Produksi Terbatas, Pertahankan Kualitas
Di tengah arus produksi massal yang menekankan kecepatan dan keseragaman, Bleu by Astrid juga memilih mempertahankan cara kerja yang pelan dan terbatas. Dari ruang sederhana itu, satu per satu produk lahir, mengikuti waktu dan tangan yang mengerjakannya.
Pekerjaan lebih sering di rumah tapi jika ada pesanan besar, pekerjaan dapat mereka lakukan di toko Bleu by Astrid. Ketika penulis mendatangi toko Bleu berlantai dua, aktivitas merajut berjalan santai penuh keakraban. Beberapa perempuan duduk berdekatan, tangan mereka mengait benang demi benang, mengikuti pola yang sudah mereka hafal. Televisi menyala di latar, sesekali berseling percakapan singkat sebelum kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Sebagian dari mereka bukan pendatang baru dalam dunia rajut. Keterampilan itu sudah mereka kenal jauh sebelum usaha ini berdiri. Omah Mimi (75), misalnya, mulai merajut sejak usia 30-an setelah belajar dari orang tuanya di Surabaya. Ia mempelajari teknik tersebut secara otodidak—melihat, meniru, lalu mengulang hingga terbiasa. Cara itu masih ia pertahankan hingga sekarang.
Dalam proses produksi, ia memilih mengerjakan satu jenis produk saja, yakni tas rajut. Bagi Mimi, itu bukan tanpa alasan.
“Kalau lain lagi nanti lupa,” ujarnya singkat.
Untuk menyelesaikan satu tas, ia membutuhkan waktu sekitar empat hari. Namun pengerjaan tidak selalu sekaligus. Ia menyesuaikan dengan kondisi di rumah, mengerjakan sedikit demi sedikit.
Kesalahan tetap terjadi. Saat perhatian terpecah, misalnya ketika menonton televisi, rajutan yang sudah setengah jadi bisa keliru dan harus mereka bongkar ulang. “Pernah. Saya bongkar dari awal lagi,” katanya.
Ia kemudian mengulang dari awal, mengikuti pola yang sama. Untuk membantu penglihatan, terutama saat malam hari, ia memilih menggunakan benang berwarna terang. “Biar malam bisa merajut,” ujarnya.
Astrid mengatakan seluruh proses quality control di Bleu by Astrid memang dilakukan secara ketat untuk menjaga kualitas produk rajutan yang dikerjakan para lansia. Seluruh bahan baku, mulai dari benang hingga warna, ditentukan langsung olehnya agar hasil produksi tetap seragam.
Meski proses pengerjaan dilakukan di rumah masing-masing pengrajin, seluruh produk wajib dikembalikan ke toko untuk diperiksa satu per satu sebelum dijual. Pemeriksaan dilakukan langsung oleh Astrid bersama tim di toko.
“Nanti balik lagi ke toko. Ada saya dan satu orang lagi yang ngecek semuanya,” katanya.
Produk yang ukurannya meleset, bentuknya kurang rapi, atau ada bagian yang tidak presisi akan langsung dibongkar dan dikerjakan ulang.
“Kalau memang ada yang salah, ya harus dibongkar,” ujarnya.
Menurut Astrid, kondisi usia para pengrajin memang kadang memengaruhi hasil kerja. Namun, proses evaluasi tetap dilakukan agar kualitas produk tetap terjaga.
Selain itu, Bleu by Astrid juga memberikan garansi kepada pelanggan apabila ditemukan kerusakan pada produk setelah pembelian, seperti resleting lepas atau jahitan terbuka. Produk tersebut dapat dikembalikan untuk diperbaiki.
Di sisi lain ruangan, Laili Yati (68), yang akrab dengan panggilan Omah Tony, juga bekerja dengan ritme yang serupa. Ia sudah mengenal rajut sejak melahirkan anak pertamanya, mulai dari membuat pinggiran kain.
“Menjahit pinggir-pinggir popok anak itu,” kenangnya sembari terkekeh.
Sejak itu, keterampilan tersebut terus ia gunakan. Kini, dalam satu minggu, ia biasanya menyelesaikan satu produk. Ia tidak bekerja tanpa jeda—setelah dua hingga tiga jam, ia berhenti sejenak untuk berdiri dan mengurangi pegal, lalu kembali melanjutkan.
“Saya suka juga merajut, isi waktu. Saya sendiri sudah sendiri. Anak-anak jauh-jauh,” ujarnya.
Selain tas, ia juga mengerjakan produk berukuran kecil seperti wadah tumbler. Pilihan itu ia sesuaikan dengan kenyamanan dan kemampuan yang ia miliki.

Merajut Bisa Menghindari Pikun
Kehadiran para lansia ini menjadi bagian penting dalam produksi Blue by Astrid. Mereka bekerja berdampingan dengan pengrajin lain yang usianya lebih muda, dengan kemampuan dan kecepatan yang berbeda-beda.
Baik Omah Mimi dan Omah Toni, merajut menjadi teman aktivitas keseharian yang memang disukai. Namun diluar itu, kegiatan merajut menjad motivasinya untuk menjaga pikiran tidak menjadi pikun.
“Motivasi merajut sekarang ini agar tidak pikun. kalau gak ada yang dikerjakan bisa gampang jadi pikun,” tutur Omah Mimi dibenarkan omah Toni,
Dalam keseharian, perbedaan itu terlihat dari produk yang dikumpulkan satu per satu, sesuai tahap penyelesaian masing-masing.
Perajut lainnya, Rahmi (58) yang tinggal di Prona III, mengaku bergabung sejak 2021. Bisa merajut karena keluarga besar dari nenek dan ke ibunya dapat merajut.
“Tas kecil sehari bisa dapat dua. Kalau tas besar sehari dapat 1. Saya fokusnya ke tas,” ungkapnya.
Rahmi mengaku awalnya hanya hobi merajut namun diusinya yang mulai lansia, justru hobi merajut telah mendatangkan pemasukan keluarga. “Dulu bantuan mama ngajar di PKK di Damai Kota lama-lama suka, lalu ikut pameran dari dinas,” katanya.
Menjadikan sehelai benang menjadi tas, merupakan hasil karya yang sederhana tapi membawa kepuasan. bukan hanya itu, Rahmi juga bangga hasil karya dibeli dan dipakai orang lainya bahkan orang asing.
“Ya apalagi dibeli orang apalagi orang aasing. yang penting itu sabar dan tekun. kalau salah berani bongkar. Saya kalau di rumah merajut gak diam tapi sambil dzikiran,” tuturnya.
Rahmi membenarkan kegiatan merajut dapat menghindari lupa atau pikun. “Anak 40 tahun saya kerja ngak suka merajut, orangnya pelupa,” sebutnya.
Perajut yang lebih muda, Dina (42) baru bergabung kurang dari setahun. Dalam dua dapat menuntaskan 1 tas besar. Kegiatan itu dilakukan sambil mengurus 3 anak dan suami.
Dina dapat merajut sejak 13 tahun lalu dengan belajar dari tetangga rumahnya melalui buku-buku dan praktek langsung.
“Senang sekali ketamu banyak orang, kenalan. Sekalian isi waktu bisa menambahkan penghasilan keluarga,” ujar Dina yang tinggal satu kompleks dengan Rahmi.
“Merajut itu gak ada yang susah hanya butuh ketelitian. Yang kesel kalau separuh jalan ada yang salah. itu harus dibongkar,” tuturnya.

Astrid memperlihatkan taplak meja rajutan
Usung Konsep Berkelanjutan, Bleu Jajaki Pasar Luar Negeri
Dengan ketelatenan, konsisten dan pemberdayaan, Bleu by Astrid pun memiliki impian dapat penerimaan di pasar luar.
“Kami sudah melakukan beberapa bisnis matching seperti Rusia, Chili, Prancis, Hongaria dan Belanda. Itu sudah tahap dimana Belanda minta kita mengirim sampel menggunakan benang pewarna alam,” ungkapnya.
Agar mendapat penerimaan, pihaknya saat ini sedang mengembangkan benang dari pewarna alam. Benang yang akan diwarnai secara alami dan dikirim sebagai sampel ke Belanda. Indonesia termasuk Kalimantan memiliki beragam aneka hayati yang dapat dijadikan pewarna alam. seperti kunyit, kayu secang, buah naga, daun suji, pandan, biji kesumba keling, bunga telang, daun jati dan lainya.
Eksperimen penggunaan bahan alami pun mulai mereka lakukan dari hal paling sederhana: bahan yang ada di sekitar rumah.
“Bahan-bahannya itu kan gampang karena dari sini. Kita dari bahan dapur-dapuran. Misalnya kuning itu kunyit,” katanya.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi untuk menarik minat pasar luar negeri yang kini semakin selektif terhadap produk handmade. Dalam beberapa kesempatan, Astrid telah melakukan pitching ke calon pembeli dari berbagai negara.
“Kemarin saya pitching ke beberapa konsumen di luar negeri, mereka juga pengen dan sukanya pewarna alam,” ungkapnya.
Minat pasar luar negeri terhadap produk Bleu by Astrid bukan hanya karena kualitas rajutan, tetapi juga cerita di baliknya. Produk-produk tersebut mereka buat secara manual oleh pengrajin lokal, termasuk para lansia yang telah merajut sejak puluhan tahun lalu.
Kombinasi antara handmade, cerita sosial, dan pendekatan ramah lingkungan menjadi daya tarik tersendiri. “Mereka kan suka manik-manik, jadi kita combine juga pakai manik-manik. Bule juga suka sustainability yang alam-alam tadi,” kata Astrid.
Sejumlah konsumen luar negeri bahkan sudah lebih dulu membeli produk Bleu by Astrid, mulai dari Australia hingga Puerto Rico. Sebagian di antaranya datang ke Balikpapan karena proyek industri, lalu membawa produk tersebut ke negaranya.
“Seperti anting-anting rajut itu mereka beli dari kita 40-50 ribu. Di sana 22 dolar. mereka datang ke kita. mereka senang handmade, juga ada story di belakangnya karena yang buat nenek-nenek dan mereka menghargai itu,” ungkapnya.
Namun untuk benar-benar masuk pasar ekspor, masih ada proses yang harus ia lalui. Selain kualitas produk, aspek standar, dokumen, hingga konsistensi produksi menjadi tantangan tersendiri.
Sementara itu, UMKM Balikpapan diakui mulai menembus pasar ekspor, namun belum berjalan rutin karena masih berada di tahap penjajakan buyer dan pameran internasional.
Kepala Dinas UMKM Balikpapan, Heruresandy, mendukung geliat usaha yang dikembangkan Bleu. Ia menyebut sejumlah pelaku usaha lokal sebenarnya sudah mulai masuk pasar luar negeri. Namun, sebagian besar masih dalam tahap awal seperti mengikuti business matching dan pameran dagang.
“Sudah ada UMKM Balikpapan yang ekspor, tapi masih terbatas. Baru tahap penjajakan buyer, ikut pameran, belum ekspor rutin atau kontinu,” ujarnya kepada inibalikpapan.com.
Heruresandy menegaskan, agar UMKM benar-benar bisa naik kelas menjadi eksportir, tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Kesiapan sistem bisnis secara menyeluruh menjadi kunci utama.
Produk harus memenuhi standar internasional, mulai dari kualitas yang konsisten, kemasan yang layak ekspor, hingga sertifikasi seperti halal atau standar keamanan pangan.
Di sisi lain, legalitas usaha juga wajib dipenuhi, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga dokumen ekspor yang lengkap.
Masalah lain yang sering terjadi adalah minimnya riset pasar. Banyak pelaku UMKM belum memahami kebutuhan dan karakter konsumen di negara tujuan. Padahal, perbedaan selera, regulasi impor, hingga standar produk bisa menentukan diterima atau tidaknya produk di pasar global.
Selain itu, aspek branding juga dinilai masih lemah. Padahal, pasar internasional tidak hanya membeli produk, tetapi juga cerita di balik produk tersebut.

Menurut Herussandy, untuk menembus pasar global, UMKM perlu memperluas jaringan melalui pameran internasional, misi dagang, hingga platform digital seperti marketplace global. Dukungan pemerintah melalui program pembinaan ekspor dan digitalisasi juga dinilai penting untuk mempercepat proses tersebut.
Dukungan Bank Indonesia
Dalam proses pengembangan usaha, Bleu by Astrid juga mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia Balikpapan. Namun untuk menjadi bagian dari program binaan, seleksi cukup ketat.
“Kurasi itu ketat, karena banyak UMKM. Kita kirim produk, seleksi, belum tentu langsung lolos,” jelasnya.
Astrid menyebut pembinaan dari Bank Indonesia (BI) yang dimulai sejak 2024 ini berdampak langsung terhadap peningkatan omzet usaha Bleu by Astrid. Ia memperkirakan terjadi kenaikan sekitar 20 persen setelah mengikuti sejumlah program pendampingan UMKM dari BI.
“Kalau dari BI ini memang nyata dampaknya,” ujar Astrid.
Ia merincikan, sebelum ada pembinaan, perputaran omzet usahanya berada di kisaran Rp20 juta per bulan untuk penjualan reguler tanpa pesanan souvenir dalam jumlah besar. Setelah jaringan pasar dan peluang pesanan bertambah, omzet bisa meningkat hingga Rp50 juta sampai Rp60 juta ketika mendapat order souvenir.
“Kalau tanpa souvenir, revenue tiap bulan sekitar Rp20 jutaan minimal. Kalau ada pesanan souvenir bisa Rp50 juta sampai Rp60 juta,” katanya.
Menurut Astrid, peningkatan tersebut dipengaruhi oleh akses pelatihan digital UMKM dan program belajar ekspor dari BI. Dari program itu, Bleu by Astrid kemudian terhubung dengan Export Center Balikpapan dan mulai mengikuti business matching dengan sejumlah negara.
“Memang belum tembus ekspor, tapi paling nggak sudah ada jalan menuju ke sana,” ujarnya.
Meski berasal dari ruang sederhana, Astrid kemudian tidak menutup mata terhadap standar global. Ia bahkan menjadikan brand Jogyakarta sebagai acuan kualitas.
“Kiblatnya seperti Dowa bag, kualitas produknya bagus. Makanya jadi panutan. mereka juga melibatkan ribuan perajut di sekitar sana,” ujarnya.
Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengakui capaian Bleu by Astrid. Menurutnya banyak UMKM binaan sudah difasilitasi untuk penjajakan pasar global. Namun, untuk benar-benar masuk pasar ekspor, pelaku usaha harus memenuhi standar yang jauh lebih ketat dibanding pasar domestik.
Mulai dari kualitas produk yang konsisten, kapasitas produksi berkelanjutan, hingga kelengkapan legalitas seperti izin usaha dan sertifikasi. Selain itu, kemasan dan branding juga menjadi faktor penting agar produk mampu bersaing di pasar global.
“Buyer internasional punya standar tinggi untuk menjaga kualitas dan kesinambungan pasokan, jadi UMKM memang harus siap secara menyeluruh,” demikian keterangan dari BI Balikpapan.
BI Balikpapan menyatakan Bleu by Astrid sendiri saat ini berada pada tahap penguatan menuju ekspor. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam Workshop Ekspor Kaltimpreneurs 2025 yang digelar BI Balikpapan bersama BI Provinsi Kalimantan Timur.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan pemahaman soal regulasi ekspor, tetapi juga membuka akses jejaring pasar global. Selain itu, Bleu by Astrid aktif mengikuti business matching dengan berbagai negara seperti Rusia, Prancis, Chile, Belanda, hingga Hungaria.
Dari rumah di Balikpapan Selatan, benang-benang kini tidak hanya menjadi produk, tetapi juga menjadi jalan menuju pasar global. Perjalanan Bleu by Astrid mungkin masih panjang. Namun dari tangan-tangan yang bekerja perlahan, arah itu mulai terlihat jelas. *** (selesai)
Penulis: Amir Syarifuddin & Donny Muslim
BACA JUGA
