Inflasi Balikpapan 2025 Terkendali, Harga Pangan dan Transportasi Jadi Penekan Akhir Tahun
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Tekanan inflasi di Kota Balikpapan sepanjang 2025 masih berada dalam kondisi terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Balikpapan tercatat sebesar 2,71 persen (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2025 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Pada Desember 2025, Balikpapan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,71 persen (month to month/mtm). Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 2,92 persen (yoy), namun sedikit lebih tinggi dibandingkan gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang berada di level 2,68 persen (yoy).
Kenaikan harga pada akhir tahun terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Sejumlah komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga di Balikpapan meliputi angkutan udara, cabai rawit, ikan layang, bawang merah, serta daging ayam ras.
Tarif angkutan udara meningkat seiring naiknya harga tiket penerbangan, khususnya pada rute Balikpapan–Surabaya dan Balikpapan–Makassar, yang terdorong oleh tingginya mobilitas masyarakat pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah disebabkan terbatasnya pasokan dari Jawa, Sulawesi, dan Banjarmasin akibat curah hujan yang tinggi.
Harga ikan layang juga mengalami peningkatan karena terbatasnya pasokan dari nelayan akibat gelombang laut tinggi, di tengah meningkatnya permintaan. Kondisi serupa terjadi pada komoditas daging ayam ras, yang harganya naik akibat menurunnya pasokan ayam beku dari Jawa serta ayam segar dari wilayah Balikpapan dan sekitarnya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki menjadi penyumbang deflasi di Balikpapan, didukung penurunan harga beberapa komoditas pangan seperti kacang panjang, tomat, ketimun, buncis, dan udang basah. Penurunan harga terjadi seiring meningkatnya pasokan, baik dari produksi lokal maupun dari daerah sentra produksi di luar Kalimantan.
Sejalan dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Desember 2025 mencatat inflasi sebesar 0,41 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi PPU sepanjang 2025 berada di level 2,08 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional maupun gabungan kota di Kalimantan Timur.
Inflasi di PPU juga terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas utama penyumbang inflasi meliputi daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan ikan layang. Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga beras, tomat, kacang panjang, buncis, dan bayam, seiring meningkatnya pasokan.
Cermati Risiko
Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi tekanan inflasi, antara lain puncak musim hujan, gelombang laut tinggi, serta potensi banjir di Balikpapan, PPU, dan daerah sentra produksi. Risiko tersebut dapat memengaruhi ketersediaan pasokan komoditas hortikultura dan perikanan, terutama menjelang Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Fitri 2026.
Di tengah potensi risiko tersebut, keyakinan konsumen di Balikpapan masih berada pada level optimistis. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Desember 2025 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 122,7, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan November 2025.
Optimisme tersebut juga tercermin dari aktivitas transaksi digital. Transaksi QRIS di Kota Balikpapan pada November 2025 tumbuh 100,85 persen (yoy), sementara di Kabupaten PPU tumbuh 70,62 persen (yoy), menunjukkan daya beli masyarakat masih bergerak positif.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menyatakan, “Realisasi inflasi tahun 2025 di Kota Balikpapan dan Kabupaten PPU yang terkendali dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2025 tersebut, serta terkendalinya harga-harga di Kab. Paser patut kita syukuri dan apresiasi.”
Ia menegaskan upaya pengendalian inflasi akan terus dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak.
“Kami akan terus bersinergi untuk melakukan pengendalian inflasi daerah,” pungkas Robi.***
BACA JUGA
