Insinuasi Adalah ‘Racun’ Jurnalistik, Waspadai Hoaks Berbasis AI
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, memberikan peringatan keras kepada insan pers mengenai bahaya praktik insinuasi atau penggiringan opini dalam penulisan berita. Di era algoritma dan media sosial yang masif, Amelia menilai kesimpulan yang melompat dari fakta dapat merusak reputasi seseorang serta meracuni ruang digital.
Hal tersebut disampaikan Amelia dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Waspada Berita Hoax di Media Sosial” yang digelar di Gedung Nusantara, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Rumus 3F untuk Melawan Insinuasi
Politisi Fraksi NasDem ini menyayangkan fenomena maraknya klarifikasi atas berita bohong yang sudah terlanjur tersebar. Menurutnya, jurnalis harus kembali ke pakem dasar jurnalistik untuk menjaga martabat ruang publik.
Ia menawarkan patokan sederhana yang disebut 3F untuk menghindari bias berita:
- Fakta: Mengedepankan data nyata di atas segalanya.
- Fondasi: Memastikan sumber informasi jelas dan kredibel.
- Framing: Memastikan pengemasan berita harus fair (adil) dan tidak menggiring opini negatif.
“Insinuasi itu adalah racun jurnalistik modern. Jangan sampai judul dibikin panas dan jadi bias, padahal narasinya tidak seperti itu,” tegas Amelia.
Ancaman Deepfake dan Manipulasi AI
Amelia juga menyoroti tantangan baru di dunia informasi, yakni penggunaan Artificial Intelligence (AI). Saat ini, hoaks bukan lagi sekadar teks yang mudah dikenali, melainkan sudah merambah pada manipulasi visual dan suara (deepfake) yang sangat meyakinkan.
“Potensi hoaks dengan bantuan AI itu paling mudah dibuat. Perang modern saat ini tidak hanya melalui senjata, tapi bisa melalui narasi misinformasi yang memecah belah bangsa,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa peran jurnalis sangat krusial bagi stabilitas keamanan nasional dalam menangkal disinformasi yang bertujuan menciptakan polarisasi di masyarakat.
Dorong Regulasi Ketahanan Digital
Saat ini, Komisi I DPR RI tengah merumuskan berbagai regulasi terkait ketahanan digital. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem yang sehat antara media digital dan konvensional, sembari menjaga keseimbangan antara penindakan hoaks dan perlindungan kebebasan berekspresi.
“Kawan-kawan jurnalis adalah penjaga terdekat ruang publik. Kita tidak hanya melawan hoaks, kita sedang menjaga martabat ruang publik dengan menyajikan berita yang benar dan bertanggung jawab,” pungkasnya. / DPR
BACA JUGA
