Limbah Kayu Balikpapan Disulap Jadi Bernilai, Warga Raup Puluhan Juta dari Sisa Produksi

Pelatihan pengolahan limbah kayu oleh Kelompok BKBG di Balikpapan menjadi produk bernilai guna.
Pelatihan pengolahan limbah kayu oleh Kelompok BKBG di Kelurahan Prapatan Balikpapan menjadi produk bernilai guna. (Foto: PT PPN)

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Program pengolahan limbah kayu di Kelurahan Prapatan Balikpapan membuka peluang usaha baru bagi warga, dari yang sebelumnya terbuang kini menghasilkan pendapatan hingga Rp25 juta.

Dulu, limbah kayu dari aktivitas operasional hanya menjadi sisa tak terpakai. Kini, di tangan warga Kelurahan Prapatan, material tersebut berubah menjadi meja, kursi, hingga alat permainan anak.

Kelompok Kayu Bina Karya Baitul Ghofur (BKBG) menjadi salah satu yang merasakan langsung perubahan itu. Baru berdiri sejak 2025, kelompok ini sudah beranggotakan 16 orang dan mulai aktif memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga dan edukasi anak.

Ketua kelompok BKBG, Rantau, mengaku perubahan paling terasa ada pada penghasilan anggota.

“Dengan adanya kelompok BKBG ini, kami dan anggota bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil olahan limbah kayu. Kami juga merasa lebih produktif karena limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, sekarang bisa menjadi produk yang bernilai,” ujarnya.

Dari produksi yang berjalan, kelompok ini sudah mencatat nilai ekonomi sekitar Rp25 juta, meski pemasaran masih terus dikembangkan.

Peran Pertamina di Balik Program Warga

Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan.

Area Manager Communication, Relations & CSR, Dodi Yapsenang, menyebut pengolahan limbah ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat.

“Program ini merupakan bagian dari komitmen PT PPN Kilang Balikpapan dalam mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (30/3/2026).

Tidak hanya dijual, hasil produksi warga juga digunakan dalam program sosial. Salah satunya melalui program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), di mana alat permainan edukatif (APE) buatan kelompok ini disalurkan ke tiga daycare.

Artinya, limbah kayu tidak hanya menghasilkan uang, tapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan anak.

Meski baru berjalan, potensi pengembangan masih cukup besar, terutama dari sisi pemasaran dan variasi produk. Dengan pembinaan berkelanjutan, kelompok ini diharapkan bisa memperluas pasar.

Program ini menjadi contoh bagaimana limbah kayu di Balikpapan diolah menjadi produk bernilai sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Dari limbah yang tak terpakai menjadi produk bernilai, langkah kecil warga Prapatan ini menunjukkan bahwa peluang ekonomi bisa datang dari hal yang selama ini dianggap tidak berguna.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses