Ulang Tahun ke-129 Balikpapan: Mahasiswa Soroti Banjir, MBG, hingga Evaluasi Kinerja Kepala Dinas

Bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-129, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan melakukan aksi damai di depan Kantow Wali Kota
Bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-129, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan melakukan aksi damai di depan Kantow Wali Kota

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-129 Kota Balikpapan, suara protes justru menggema di jalanan. Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan Melawan turun ke jalan, membawa daftar panjang persoalan kota—dari banjir yang tak kunjung tuntas, pendidikan yang terpinggirkan, hingga ancaman keselamatan di Simpang Rapak.

Koordinator Lapangan aksi, Jusliadin dari Universitas Balikpapan, menyebut mahasiswa sengaja mengangkat isu nasional karena dampaknya dirasakan hingga ke daerah.

Soroti Program MBG, Singgung Pemangkasan Anggaran Pendidikkan

Salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berimbas pada pemangkasan anggaran pendidikan.

“Kami terpukul dengan kabar meninggalnya seorang anak di NTT karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. Dari kajian yang kami baca, MBG berpotensi memangkas dana pendidikan. Bahkan sudah diajukan judicial review,” ujar Jusliadin, disela-sela aksi damai, Senin 9 Februari 2026.

Mahasiswa meminta pelaksanaan MBG di Balikpapan dikaji ulang, mengingat persoalan pendidikan di kota ini masih dihadapkan pada kekurangan tenaga pengajar dan minimnya fasilitas.

Selain isu nasional, banjir kembali menjadi sorotan utama. Mahasiswa menilai persoalan klasik ini terus berulang tanpa penyelesaian menyeluruh.

Mereka mendesak Pemerintah Kota Balikpapan melakukan audit total kapasitas drainase dan kolam retensi di seluruh wilayah kota.

“Mulai Balikpapan Kota, Utara, Barat, hingga kawasan lain harus dievaluasi. Jangan sampai banjir terus jadi langganan tiap hujan deras,” kata Jusliadin.

Soroti Izin Pembangunan dan Zero Delta

Mahasiswa juga menuntut evaluasi seluruh izin pembangunan yang dinilai tak lagi sejalan dengan prinsip zero delta dan RTRW.

Tuntutan lainnya meliputi:

  • Pembangunan kolam retensi tambahan
  • Kewajiban sumur resapan
  • Penambahan ruang terbuka hijau

Beberapa titik rawan banjir yang disebut antara lain:
Jalan MT Haryono, DAS Ampal, Jalan Beller, hingga kawasan Beje-Beje.

Simpang Rapak Dinilai Masih Rawan

Persoalan keselamatan lalu lintas juga ikut disuarakan. Mahasiswa menilai pembatasan jam operasional angkutan berat di Simpang Rapak belum memiliki dasar hukum kuat.

Mereka mendesak Pemkot segera menghadirkan peraturan daerah agar keselamatan pengguna jalan benar-benar terjamin.

PR Besar di Usia 129 Tahun

Dalam aksinya, mahasiswa juga meminta evaluasi kinerja sejumlah kepala dinas serta percepatan perbaikan jalan rusak di berbagai titik kota.

Aksi ini menjadi pengingat bahwa di usia ke-129, Balikpapan masih memiliki pekerjaan rumah besar yang menuntut keberanian kebijakan, konsistensi penegakan aturan, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses