Andi Sri :  Nakes di Balikpapan Dapat Tunjangan Hingga Rp 4,5 Juta

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Salah satu petugas yang selama pandemi Covid-19 terjadi terdepan dalam memberikan pelayanan bagi warga yakni tenaga kesehatan (nakes), sehingga sudah sewajarnya mereka mendapatkan perhatian dari Pemerintah. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Andi Sri Juliarty mengatakan, saat ini untuk nakes pemberian honor masih sama dengan standar yang sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan yakni senilai Rp 4,5 Juta.

“Nilai tersebut diluar insentif yang diberikan dari penanganan pasien yang dilayani,” ujar Andi Sri Juliarry kepada media, Rabu (2/3/2022).

Dio biasa Andi Sri Juliarty disapa, jika kedepan kasus Covid tidak kunjung landai, dan dua isoter yakni di Hotel Grand Tiga Mustika dan Embarkasi Haji penuh, maka tidak menutup kemungkinan akan membuka kembali tempat isoter lainnya.

“Tapi kita berharap kasus Covid di Balikpapan tidak semakin naik,” harapnya. 

Kalau pun harus membuka lokasi isoter baru, pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak salah satunya dengan DPRD Kota Balikpapan, karena ini berkaitan dengan penganggaran. 

“Tak hanya DKK, semua OPD terkait tentu akan mengusulkan anggaran dana tidak terduga jika kasus semakin naik,” kata Dio. 

Sementara itu, para nakes yang bertugas di tempat isoter ini juga dibantu dari beberapa relawan seperti PMI, misalnya saja di Embarkasi Haji, disana minimal ada 4 shift, dalam satu shift harus ada satu dokter, dua perawat dan satu sopir. 

“Kalau di Hotel Grand Tiga Mustika dibantu juga para karyawan hotel dalam penanganan pasien,” akunya. 

Sedangkan sampai saat ini sudah ada 225 nakes di Kota Balikpapan yang terpapar Covid-19, namun kondisinya relatif baik dan tidak ada yang sampai bergejala parah.

“Rata-rata hanya gejala ringan, cukup dengan isoman,” kata Dio. 

Baca juga ini :  Sambangi KPU Balikpapan, DPRD Kaltim Tanya Soal Keamanan Jelang Pilkada

Walau begitu pihak tidak melakukan penambahan tenaga kesehatan karena dianggap belum mendesak.

“Ada ketentuan dari Kementerian Kesehatan, bahwa kalau tenaga kesehatan itu lima hari isolasi mandiri. Kemudian diperiksa lagi, kalau negatif maka sudah bisa bekerja kembali,” terangnya.

Dio juga memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tak terganggu. Terutama di puskesmas, yang kalau ditemukan kasus positif akan ditutup selama satu hari untuk proses disinfektan dan tracing.

“Setelah itu pasien  dialihkan ke puskesmas tetangga. Jadi gak terganggu pelayanan. Masih bisa tertangani,” pungkasnya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.