El Nino Kuat Mengintai Kaltim, Pangan Terancam Jika Kemarau Berlanjut
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Ancaman terhadap ketahanan pangan Kalimantan Timur (Kaltim) mulai meningkat seiring kondisi El Nino yang kini berada pada intensitas kuat. BMKG Samarinda memperingatkan kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dan kering hingga awal kuartal I 2027.
Prakirawan BMKG Samarinda Fatuh Hidayatullah mengatakan, El Nino saat ini berada dalam kondisi aktif dengan indeks Nino 3.4 mencapai 1,56, melampaui ambang batas kategori kuat sebesar 1,5.
“El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan pada intensitas kuat dengan indeks Nino 3.4 yang sudah mencapai angka 1,56, di mana batas threshold untuk kategori kuat adalah 1,5,” ungkap Fatuh, dikutip dari laman Pemprov.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena El Nino kuat berpotensi memperpanjang periode kering dan meningkatkan risiko kekurangan air. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga dapat menekan sektor pertanian dan ketersediaan pangan jika kondisi berlangsung berkepanjangan.
IOD Positif Bisa Perparah Kemarau Kaltim
Ancaman kemarau panjang berpotensi semakin besar jika El Nino kuat beriringan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Fatuh menjelaskan, IOD saat ini masih berada pada fase netral. Namun, BMKG memprediksi fenomena tersebut dapat memasuki fase positif pada September hingga Desember 2026.
“Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun, diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember,” jelasnya.
Jika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, Indonesia berpotensi menghadapi kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering.
Situasi ini perlu diantisipasi Kaltim, terutama karena sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produktivitas tanaman pangan.
Agustus Diprediksi Jadi Puncak Kemarau
BMKG Samarinda memprediksi Agustus 2026 menjadi puncak musim kemarau di Kaltim.
Indikasi kondisi kering juga terlihat dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH). Sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim telah memasuki kategori HTH menengah, terutama wilayah di bagian selatan.
Kondisi kemarau semakin diperkuat masuknya massa udara kering dari arah timur yang membawa udara relatif panas melintasi wilayah Kalimantan.
“Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kemarau tahun ini harus diwaspadai lebih lanjut,” kata Fatuh.
Hujan Turun, Warga Diminta Tak Lengah
Meski demikian, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dalam beberapa hari terakhir. BMKG mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa ancaman kemarau telah berakhir.
Menurut Fatuh, hujan yang terjadi lebih bersifat sementara akibat dinamika atmosfer, termasuk aktivitas gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air secara temporer.
Karena itu, masyarakat diminta tidak terlena dengan hujan yang turun.
Sebaliknya, air hujan yang masih tersedia perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan air sekaligus menghadapi potensi periode kering berikutnya.
Kaltim Perlu Antisipasi Dampak Kekeringan
BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, terutama kekeringan dan semakin keringnya kondisi lingkungan.
Ancaman tersebut juga perlu menjadi perhatian sektor pertanian dan pangan. Jika periode kering berlangsung lebih panjang, ketersediaan air untuk lahan pertanian dapat ikut tertekan dan berpotensi memengaruhi produksi pangan.
Dengan El Nino kuat yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027 serta potensi IOD positif pada akhir 2026, Kaltim perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini agar tekanan terhadap ketersediaan air dan ketahanan pangan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
