Film Horor Kuyank Tawarkan Perspektif Baru soal Kuyang, Sebut Sosok Itu Bukanlah Hantu
JAKARTA, inibalikpapan.com — Industri film nasional kembali menghadirkan cerita horor yang berakar dari budaya Kalimantan. Film Kuyank, prekuel dari Saranjana: Kota Ghaib, mengangkat legenda Kuyang dengan pendekatan berbeda, tidak sekadar menampilkan sosok menakutkan, tetapi menggali sisi kemanusiaan di balik mitos yang hidup di masyarakat.
Film produksi DHF Entertainment ini mengambil latar di Kalimantan Selatan dan dijadwalkan tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026. Sutradara Johansyah Jumberan menghadirkan cerita yang memposisikan Kuyang bukan sebagai hantu, melainkan manusia yang terjerumus ke dalam ilmu hitam.
“Di film ini adalah POV (point of view) dari Kuyangnya sendiri, bukan POV dari masyarakat. Jadi kalian akan tahu gimana perasaan kalian tuh bisa tahu gimana sih Kuyang itu terjadi menjadi Kuyang,” ujar pemeran utama Putri Intan Kasela, dilansir Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Putri menegaskan bahwa karakter Rusmiati yang ia perankan merupakan manusia biasa sebelum terjerumus ke jalan gelap.
“Orang lain tahu kan biasanya Kuyang itu hantu. Dan Kuyang ini bukan hantu, dia itu manusia,” tegasnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Ochi Rosdiana, yang menyebut film ini berupaya meluruskan persepsi publik tentang legenda Kuyang.
“Karena sebetulnya Kuyang itu bukan hantu. (Tapi) hantu manusia yang mengkaji ilmu,” kata Ochi.
Menggali Budaya Lokal Kalimantan
Proses produksi film ini melibatkan riset langsung ke wilayah Nagara dan Kandangan, Kalimantan Selatan, yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai kawasan legenda Kuyang.
“Risetnya sih mendengar cerita langsung dari orang sananya langsung. Terus juga kita kan syutingnya di daerah Nagara, yang di mana di situ masih percaya kalau di situ ada kampung Kuyang,” ungkap Putri.
Dari riset tersebut, sejumlah detail budaya dan kepercayaan lokal dimasukkan ke dalam cerita, termasuk ciri-ciri fisik pelaku ilmu Kuyang.
“Kalau Kuyang sendiri kan juga kayak contohnya ciri-cirinya karena dia malamnya lepas kepala, itu di lehernya tuh pasti ada bekasan,” jelasnya.
Drama Manusia di Balik Horor
Selain unsur mistis, Kuyank juga mengangkat konflik emosional dan keputusan hidup yang salah. Karakter Fauziah yang diperankan Ochi digambarkan sebagai perempuan yang memendam perasaan cinta.
“Aku mencintai Badri dalam diam. Badri itu Rio Dewanto,” ujar Ochi.
Sementara Putri menilai teror dalam film ini lahir dari kecerobohan manusia dalam mengambil keputusan besar.
“Si Kuyang itu sangat ceroboh mengambil keputusan. Nah mungkin si Rusmiati ini tuh mempunyai sifat yang ceroboh untuk mengambil keputusan dan dia tidak memikirkan apa konsekuensinya ke depannya,” kata Putri.
Produksi di Alam Terbuka Kalimantan
Syuting dilakukan di alam terbuka dengan kondisi rawa dan sungai, yang menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemain.
“Susahnya sih di situ, main air terus. Kayak bisa lima hari lima malam tuh benar-benar basah terus tiap malam karena aku tuh ada di atas gentong,” tutur Putri.
Kondisi alam dan aktivitas masyarakat setempat, seperti perahu klotok di sungai, juga menjadi tantangan teknis selama proses pengambilan gambar.
“Kesulitannya tuh kadang apalagi di Kandangan ya. Itu tuh orang masih menggunakan klotok untuk ke pasar,” jelasnya.
Pesan untuk Penonton
Para pemain menegaskan bahwa film ini tidak hanya menawarkan horor, tetapi juga refleksi bagi penonton. Ochi mengingatkan pentingnya keterbukaan perasaan.
“Jangan memendam perasaan apapun terhadap seseorang,” pesannya.
Sementara Putri menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menentukan pilihan hidup.
“Pilihan sesuatu tuh jangan terlalu buru-buru. Harus dipikirin lagi, terus juga harus dipikirin matang,” ujarnya.
Dengan latar budaya Kalimantan dan cerita yang berangkat dari drama manusia, Kuyank diharapkan menjadi tontonan horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga memberi perspektif baru tentang legenda yang hidup di tengah masyarakat.***
BACA JUGA
