Gunakan Mobil, Pengetap Di Balikpapan Kian Merajalela

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Tak bisa dipungkiri panjangnya antrean di sejumlah SPBU di Kota Balikpapan diduga ikut melibatkan para pengetab Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal ini disebabkan adanya disparitas harga yang cukup jauh antara Pertalite senilai Rp 10 ribu perliter dengan harga Pertamax yang mencapai Rp 14 ribu perliter.

Para pengetab memanfaatkan momen tersebut untuk lebih memilih BBM jenis pertalite yang dibeli dan kemudian dijual dengan harga Rp 14 ribu dengan menggunakan Pom Mini.

Seperti yang terekam pada video yang dikirim warga belum lama ini, nampak dalam video tersebut satu unit minibus berwarna putih lagi asyik memindahkan BBM dari dalam mobil ke jerigen yang berukuran 20 liter tak jauh dari Apartemen Pertamina Jalan Letjen Soeprapto, Balikpapan Barat.

Telihat ada 3 jerigen dalam video total jika masing-masing jerigen penuh maka ada 60 liter yang dipindahkan dari dalam mobil ke jerigen, entah ini satu kali isi atau berulang kali mengisi di SPBU.

Iwan (45) bukan nama sebenarnya salah satu pengetap yang biasa membeli BBM jenis pertalite menggunakan mobil mengaku, dalam sehari hanya mampu bolak balik di SPBU itu 4 kali melihat panjangnya antrean yang ada saat ini.

“Dulu bisa sampai 10 kali mas, saat ini cuma sampai 4 kali,” ujar Iwan.

Ada beberapa lokasi SPBU yang biasa di datangi Iwan untuk mengetab diantaranya SPBU Karang Anyar, SPBU Gunung Guntur SPBU Km 4 dan SPBU Kebun Sayur.

“Kadang pagi di Karang Anyar, siang di Gunung Guntur dan malamnya di SPBU Km 4,” akunya.

Hal senada disampaikan Riswan yang mengaku mencari BBM jenis Pertalite saat ini gampang-gampang susah.

Untuk mendapatkan barang dagangan harus rela menyisir seluruh SPBU yang ada mulai dari pagi hari bahkan malam hari.

Baca juga ini :  Yamaha Berikan Service Gratis dan Oli dari Rumah Buat Pelanggan Loyal

Di malam hari, ia biasanya mencari di atas pukul 19.00 wita. Sementara, di pagi hari ini mencarinya sekitar pukul 08.00. Pertalite itu biasanya ia tampung di dalam jerigen.

Belinya pakai mobil itu tadi habis itu ditampung dan dipindahkan di jerigen, baru kembali lagi di SPBU.

“Ya harus pintar-pintar kita juga, kecuali kalau sudah gak ada ya mau nda mau kaya sekarang ini kan semua penjual BBM eceran rata-rata jual Pertamax, gak ada Pertalite. Kalau ada paling pake sendiri,” ujarnya.

Untuk BBM jenis Pertamax oleh pedagang BBM eceran di kota Balikpapan dijual seharga Rp 16 ribu per liter. Sedangkan untuk jenis BBM Pertalite dijual seharga Rp 14 ribu perliter.

Dari pantauan media di SPBU Karang Anyar diduga mereka yang ikut mengantre juga para pemilik mobil yang bisa jadi pengetap beberapa kendaraan yang sudah isi BBM kembali terlihat mengantre lagi.

“Ada aja itu mas, biasanya para pengetap yang pakai mobil dan motor thunder,” kata Iwan salah satu warga yang ikut antre BBM di SPBU.

Iwan bahkan sering menyaksikan ada kendaran yang sudah mengisi di depan kendaraannya, tiba-tiba kembali antre di belakang kendaraannya setelah satu jam kemudian.

“Mereka itu bolak balik, sementara kami yang pakai mobil saja dibatasi karena menggunakan aplikasi my Pertamina,” kata Iwan.

Hal senada juga disampaikan Jafar warga Manggar yang membeli BBM jenis Pertalite di SPBU Batakan, beberapa kendaran terutama mobil yang sudah isi BBM selang berapa jam bisa kembali isi BBM lagi.

“Inikan tidak adil, kami saja ada batasan, kenapa ada sejumlah mobil atau motor tetap dilayani meski sudah bolak balik ke SPBU,” akunya.

Baca juga ini :  Diduga Ada Uang Iuran, Pengetap Beralih Ke Motor Tangki Kecil

Dirinya berharap ada ketegasan dari pihak terkait, terhadap kedua SPBU ini, jangan sampai ada dugaan ‘main mata’ dengan pemilik kendaraan tertentu.

“Harus segera ditertibkan, kasihan kami ini yang juga butuh BBM,” akunya.

Terlihat antrean panjang pengendara yang hampir sepeda motornya sama jenisnya, dengan ukuran tangki yang besar. Mereka mengantre diduga sebagai pengetap dengan ciri khas memakai masker penutup wajah.

“Mungkin mereka mau rapat den­gan pengelola SPBU di situ. Tapi rapat apa? Apa yang dibahas? Apakah ada permainan antara pemilik atau petu­gas SPBU dengan para pengetap BB mini,” ungkap Mispan warga yang ter­paksa harus menghindari antrean panjang itu dan beralih ke pengisian BBM jenis Pertamax.

Baik Jafar maupun Mispan ked­uanya berharap agar melihat masalah kelangkaan yang diduga akibat ulah nakal para oknum pengetap BBM ini membuat warga resah sekaligus gre­getan akibat isu kelangkaan BBM di Balikpapan. Keduanya meminta agar masalah ini dapat segera ditangani dengan tuntas oleh pihak kepolisian.

“Polisi harusnya bertindak, warga sudah terlalu resah dan sangat grege­tan dengan masalah ini. Masalahnya kalau susah mendapatkan pertalite di SPBU, mau tidak mau kami harus membeli di pengecer yang harganya jauh lebih mahal. Belum lagi takaran ukuran di botol yang digunakan itu hanya 850 mililiter bukan 1 liter,” jelasnya.

“Har­ganya sudah dinaikkan lebih mahal, ukarannya pula dikurangi, iya kalau tidak dicampur lagi, kacau ini. Tolong polisi ditindak tegas para oknum pen­getap BBM, jangan tutup mata karena ini sudah merupakan pelanggaran pidana,” pinta Jafar.

Panjangnya antrean kendaraan hingga keluar area SPBU dan memakan sebagian badan jalan, turut memicu kemacetan. Badan jalan menyempit, kemacetan tak terelakkan.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.