Johanis Patiung Gelar Reses di Rt 66 dan 10 Manggar, Warga Ngaku Belum Pernah Ada Reses di Wilayahnya

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com —  Dalam reses yang digelar anggota Fraksi PDI Perjuangan Yohanes Patiung dapil Balikpapan Timur, di Rt 66 dan Rt 10 Kelurahan Manggar terungkap bahwa selama ini masyarakat setempat belum pernah menemui kegiatan reses DPRD.

Reses menjadi hal yang baru kali pertama kali mereka dengar. RT 66 dan Rt 10 Kelurahan Manggar banyak dihuni warga keturunan Tator.

Ketua RT 66 Kelurahan Manggar Nurdin  mengakui selama di masyarakat  belum pernah mengikuti kegiatan reses anggota DPRD. “Baru malam ini, reses bagi  kita  masih asing karena gak  pernah ketemu itu  namanya reses,” ujarnya, Kamis malam (21/11/2019).

Dalam reses yang dihadiri Ketua DPC PDI Perjuangan Thohari Aziz, Anggota DPRD  Wiranato Oey, Camat Balikpapan Timur Priyono, Lurah Manggar Nursiah, perwakilan PU Rahmat, DInas Keesehatan kota dan Kepala Puskesmas Manggar terungkap persoalan di masyarakat seperti pembangunan posyandu, keberadaan gas 3 kg, persoalan terbatasnya ruang masuk sekolah dasar, pengurusan IMTN, persoalan penanganan sampah rumah tangga hingg persoalan drainase hingga semenisasi jalan yang belum dinikmati masyarakat melalui APBD kota.

“Disini kalau musim hujan ada pemandangan unik anak-anak libur ada juga sekolah tapi pakai lori karena banjir jalan. Mereka hanya sekolah SD 11,” ujar Ketua RT 66 Nurdin.

Persoalan lainya yang ditemukan, dari 27 Rt di Batakan ini, hanya ada satu sekolah yakni SD 011.

Nurdin mengusulkan agar pemkot menambah sekolah dan merubah system zonasi untuk penerimaan siswa baru.

“Karena system itu anak kami jauh dari sekolah umur 8 tidak bisa masuk sekolah karena bukan ring satu. Yang diprioritaskan ring satu. Jadi anak kami usia 8 tahun belum juga sekolah,”ungkapnya.

Akibat persoalan ini, rumah kepala sekolah SD 011 sempat didatangi orang tua murdi.

Baca juga ini :  BPJS Kesehatan Balikpapan Hentikan Kerjasama Dua Rumah Sakit

“Beberapa hari rumah kepala sekolah dijaga karena warga protes anaknya tidak bisa masuk SD disini,” tandasnya

Anggota DPRD Balikpapan Johanes Pattiung  mengakui sebagian besar warga di lingkungan Rt 66 dan 10 masih kaget-kaget atau bingung dengan namanya reses. “Karena selama ini mereka tidak pernah ada reses,”katanya.

Anggota DPRD Balikpapan Yohanes Pattiung mengajak masyarakat untuk  tidak sungkan menyampaikan apa yang menjadi persoalan masyarakat.

“Karena pada pilega lalu banyak datang namun setelah terpilih nggak tengok-tengok warga lagi. Jadi hanya datang lima tahun. Nah saya  balik kesini sebagai penyalur aspirasi. Saya janji jadi penyambung lidah masyarakat,” tuturnya.

“Selama ini warga belum pernah menerima semenisasi dari APBD Kota karena itu usulan fisik akan dikawal dalam musrenbang,”tambah.

Terkait persoalan sekolah, diakui persoalan ini menjadi perhatian. Kasus ini menurut Johanes sudah disampaikan keluhan warga kepada kepala dinas peniddikan. “Ini direspon baik dan kepala dinas akan menambah kelas sehinga temen-teman bisa terakomodir Cuma kalau system itu dipakai masyarakat tidak tenang. Akan  muncul lagi kasus itu. Alangkah bagus kalau bangunan kelas ditambah supayan masyarakat tidak khawatir. Kasian anak sudah 7,5 tahun anak tidak  bisa karena system zonasi itu ringa satu,” bebernya. Penambahan sekolah menurutnya menjadi sesuatu yang mendesak. Dia menyebutkan perbedaan jumlah sekolah di Balikpapan dan Samarinda SMP berjumlah 40 di Balikpapan hanya 20.”Jauh lebih banyak sekolah di Samarinda sedangkan penduduknya tidak beda jauh tapi jumlah sekolah beda 100 persen. SMP disini saja 20 disana 40 an,” tukasnya

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.