penyuluhan waspada kanker pada anak yang digelar Yayasan Kanker Indonesia Kota Balikpapan

Kanker Kini Menyerang Anak Usia Dibawah 5 Tahun

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Tingginya penderita kanker di Indonesia, termasuk di Kota Balikpapan. Bahkan kanker kini bukan hanya diderita orang dewasa atau orangtua tapi anak-anak juga.

Hal itu disampaikan Wali Kota Balikpapan saat membuka acara penyuluhan waspada kanker pada anak yang digelar Yayasan Kanker Indonesia Kota Balikpapan di Aula Kantor Wali Kota, Senin (11/12).

“Biasanya diderita usia diatas 50 tahun tapi sekarang juga berkembang diusia anak-anak sehingga perhatian khusus,” ujar Rizal.

Menurutnya, lebih rumit dalam deteksi kanker anak dibandingkan penderita usia dewasa. Hal itu karena, biasanya untuk penderita kanker dewasa lebih karena gaya hidup dan pola komsumsi.

Rizal mengungkapkan, setiap tahunnya jumlah anak yang positif menderita kanker mencapai 10 hingga 11 ribu. Bahkan banyak juga ditemukan penderita kanker mata pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Kata Rizal, penderita kanker pada anak bisa juga disebabkan kelainan genetika atau orangtua yang terpapar bahan berbahaya atau zat kimia.

“Kanker anak seperti Leukimia ini paling tinggi angka leukimia, kemudian kanker pada saraf pusat dan mutasi gen, ” ujarnya.

Rizal juga mengutip data organisasi dunia yang menyebutkan, bahwa 2/3 penderita kanker ada di negara berkembang. Sehingga jika penduduk Indonesia berjumlah 250 juta, artinya penderita kanker sekitar 350 ribu jiwa.

“Penanganan kanker ini sulit dilakukan baik di Indonesia maupun dunia. Kalau penduduk kita ada 250 juta kira -kira itu 2/3 berarti di Indonesia ada sekitar 350 ribu penderita kanker, diantaranya kanker anak, ” ujarnya

Yayasan Kanker Indonesia sudah menetapkan pilar dalam pencegahan kanker yakni pilar pertama pencatatan data atau akurasi penderita. Pilar kedua deteksi dini. Karena kanker sangat penting untuk deteksi dini.

Baca juga ini :  Anggaran PJU Rp30 miliar, Lingkungan Masyarakat Masih Ada yang Gelap

“Sering kita lalai baru ketahuan setelah stadium sehingga penanganan sulit. Di Indonesia persoalan data sangat sulit. angka yang diperoleh bisa jadi angka yang baru tercatat, ” ujarnya.

“Penting dilakukan pengolahan aspek variatif.Pendekatan diluar dari medis ya bisa dengan cara agamis, psikologi sehingga daya juang hidup lebih tinggi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.