Pertahankan Ekosistem Mangrove dengan Terapkan Simbiosis Sama-Sama Menguntungkan

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Dinas Lingungan Hidup kota Balikpapan mengapreasiasi  penamanan 1000 mangrove dengan model demplot yang dilakukan RU V Balikpapan di kota Balikpapan dan Kabupaten PPU.

DLH Balikpapan sudah melakukan model demplot penanaman mangrove di Hutan Mangrove Pendopo Teritip, Balikpapan Timur.

“Ini sangat bermanfaat karena dengan kegiatan ini berarti kita dapat semacam model atau pengetahuan apa itu rekayasa atau model yang kita praktekan dalam menanam mangrove,” ujar Sekretaris DLH Balikpapan Tommy Alfianto dihadapan jajaran RU V saat penanaman mangrove di Kariangau, (7/11/2020).

“Kita memang memiliki demplot di Teritip itu menghadap selat Makasar memang karakteristik beda kalau disini (Kariangau ) selat kalau disana selat mungkin abrasi pasir pantai sangat tinggi. Jadi perlu rekayasa sendiri dalam penanamannya membudidayakan dan jenis berbeda jadi ini tantangan kita semua,”katanya.

Tommy juga menyampaikan model BKSDA Kalimantan dalam pelestarian, penanaman mangrove bukan hanya sekedar hutan saja. BKSDA juga membuat percontohan bahwa keberadaan mangrove juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

“Kalau hanya berupa tanaman/hutan ini sangat rawan dirambah masyarakat untuk empang, tambak dan lain-lain. Bagaimanan BKSDA itu menggabungkan kehidupan ekosistem dengan masyarakat sehingga terjadi simbiosis yang sama-sama menguntungkan. Bisa jadi wisata mangrove, pemanfaatan buah atau getah bahkan kayu kering-kering  itu bisa kerajinan seperti di margomulyo itu,” bebernya.

Dengan adanya manfaat mangrove ini, maka masyarakat akan enggan merambah bahkan peduli untuk menjaga kelestariannya.

“Itu dari pemerintah provinsi, daerah dan perusahaan membuat program-program yang sinergi bersama-sama,” ujarnya.

Demplot Mangrove Kariangau

Candrasyah  tim pendamping RU V Balikpapan dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) IPB menambahkan lakukan demplot ini untuk menhindari sampah dan menahan ombak. Demplot areal untuk penanaman contoh. Dengan diberi pagar jaring dan kayu menghindari ombak dan sampah. Luasanya 25 mx20 m mampu menampung 500 bibit mangrove.

Baca juga ini :  Jaga Ekstetik Kota, DLH Siapkan Kontainer Sampah

Jenis mangrove sendiri berbeda-beda karena itu pihaknya membuat demplot dengan lima yang berbeda. “Dari medianya, ombaknya, ada yang dipengaruhi sungai, ada tanah timbul nah itu kita beda-beda untuk demplotnya,” katanya saat ditemui di Kariangau.

Jenis lokasi/wilayah penanaman mangrove ada yang lumpur, pasir, ada klay (keras banget).

“Jenis beda-beda juga mangrove, kalau disini (kariangau)  wilayahnya lumpur dan pasir. Mangrove juga miliki adaptasi yang berbeda-beda, misalnya jenis mangrove Avesinia lebih panjang, trijopora lebih pendek, ada jenis lainya kayak rivarian itu untuk wilayah sungai,” jelasnya.

“Seperti rumus matemtika, tanah seperti apa?salintas seperti apa, maka muncul jenis mangrove apa yang akan ditanam. Disini jenis Trijopora yang tinggi kalau pendek itu Stilosa bisa di laut di pulau-pulau tengah-tengah yang sanilitas tinggi. Kalau sungai Wain jenis Prepat karena untuk makan bekantan ya buahnya,”tukasnya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.