Prakiraan Cuaca Kaltim Minggu 13 September 2026: Hujan Lokal Masih Berpeluang

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim) masih berpeluang diguyur hujan pada Minggu, 13 September 2026, meski kondisi kemarau dan cuaca kering masih mendominasi.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Timur termasuk wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang pada periode 11–13 September 2026.

BMKG juga memprakirakan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Kalimantan Timur pada 13 September 2026. Awan jenis ini dapat berkaitan dengan hujan, petir, dan angin kencang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun September masih berada dalam periode kritis musim kemarau, peluang hujan lokal tetap terbuka di Kaltim.

Cuaca Kaltim Minggu 13 September

Potensi hujan di Kaltim dipengaruhi dinamika atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta daerah perlambatan dan pertemuan angin.

BMKG menyebut peluang hujan pada periode tersebut dapat terjadi secara lokal dengan intensitas sedang hingga lebih tinggi di sejumlah wilayah.

Masyarakat tetap perlu mengantisipasi perubahan cuaca yang berlangsung cepat, terutama ketika awan hujan mulai tumbuh.

Hujan lokal juga berpotensi disertai kilat atau petir dan angin kencang. Karena itu, warga yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memperhatikan perkembangan cuaca dan menghindari berteduh di bawah pohon ketika terjadi hujan deras disertai angin.

Kemarau dan El Niño Masih Mengintai

Di sisi lain, BMKG mengingatkan kondisi kering belum sepenuhnya berakhir. Sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.

Untuk September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per dasarian masih mendominasi sebagian wilayah Kalimantan.

BMKG juga menyatakan El Niño diprediksi masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat di wilayah rawan karhutla, termasuk Kaltim, perlu tetap meningkatkan kewaspadaan.

Dengan demikian, hujan yang turun secara lokal belum serta-merta menandakan berakhirnya musim kemarau.

Masyarakat Kaltim juga diminta tetap menghemat air dan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.

Catatan: Prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Masyarakat disarankan memantau pembaruan informasi melalui laman dan aplikasi resmi BMKG.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses