Kualitas Udara dan Jarak Pandang di Kalimantan Masih Mengkhawatirkan
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus diperkuat menyusul tingginya konsentrasi hotspot di sejumlah wilayah. Kondisi kualitas udara juga masih menjadi perhatian, dengan jarak pandang di Pontianak sempat turun hingga 1-3 kilometer akibat kondisi udara kabur.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat (11/9/2026) pukul 21.15 WIB, terdeteksi 688 hotspot high confidence secara nasional.
Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 569 titik.
Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi, yakni 271 titik, melonjak dari 96 titik.
Hotspot juga meningkat di Kalimantan Barat dari 39 menjadi 51 titik, serta Kalimantan Selatan dari 9 menjadi 47 titik.
Sementara itu, kondisi lebih baik terlihat di sejumlah wilayah Sumatera. Sumatera Selatan mencatat 11 hotspot, turun dari 34 titik. Riau dan Jambi bahkan masing-masing mencatat nol hotspot high confidence, dibandingkan sebelumnya 18 titik di Riau dan dua titik di Jambi.
Kualitas Udara Kalimantan Masih Jadi Perhatian
Di tengah tingginya aktivitas karhutla, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan masih perlu diwaspadai.
Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara Indonesia bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, di bagian tertentu Kalimantan terpantau kategori berbahaya.
Pada 11 September, BMKG mencatat jarak pandang di kawasan Pelabuhan Dwikora, Pontianak, berada sekitar 1-3 kilometer pada beberapa periode pengamatan karena kondisi udara kabur.
Sementara di Banjarmasin, jarak pandang sempat sekitar 4 kilometer pada awal periode pengamatan, sebelum membaik hingga sekitar 10 kilometer seiring perubahan kondisi cuaca.
Kondisi jarak pandang tersebut bersifat dinamis dan dipengaruhi konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan.
Tiga Chinook Jepang Perkuat Water Bombing
Untuk memperkuat penanganan, kapasitas operasi udara kini mendapat dukungan Pemerintah Jepang melalui tiga helikopter CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF).
Ketiga helikopter tersebut dibawa menggunakan kapal JMSDF JS Kunisaki dan telah tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat. Armada itu dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing.
Sebelum diterjunkan, ketiga Chinook harus melalui tahapan persiapan teknis dan flight test untuk memastikan kesiapan serta keselamatan penerbangan.
Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel. Dalam operasinya, TNI mengawasi aspek keamanan, flight clearance dan penempatan Safety Officer, sementara misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.
Kehadiran tiga Chinook diharapkan memperkuat kemampuan pemadaman udara, terutama untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit ditangani melalui operasi darat.
53 Armada Udara Disiagakan
Sebelumnya, pemerintah telah menyiagakan 53 armada udara untuk pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 lainnya menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pengerahan armada dilakukan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran dan faktor meteorologis.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan pihak terkait terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up serta pendinginan.
Khusus di ekosistem gambut, pembasahan dan pendinginan dilakukan secara berkelanjutan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan asap, titik api atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditangani sedini mungkin.
Sumber : Kemenhut
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
