Ketika Orang Utan Sempurna Mati dalam Kepungan Asap Karhutla
PONTIANAK, Inibalikpapan.com – Kematian Orang Utan “Sempurna” akibat sesak napas di tengah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) adalah sebuah ratapan pilu yang mengoyak nurani.
Satwa langka yang seharusnya menari di atas kanopi rimba itu justru ditemukan terkapar tak berdaya, meregang nyawa saat paru-parunya dijejali jeluteng hitam.
Tragedi ini bukanlah sekadar musibah alam yang datang tanpa permisi, melainkan cermin buram dari dosa ekologis manusia yang dengan dingin menumbalkan
Hutan Kalimantan yang purba dan dahulunya menjadi benteng kehidupan, kini perlahan berubah wajah menjadi keranda hijau. Pembukaan lahan yang ugal-ugalan dan praktik pembersihan hutan dengan lidah-lidah api adalah bentuk kejahatan lingkungan yang nyata. Karhutla jarang sekali terjadi karena takdir alam semata;
Setiap jilatan api adalah representasi dari dahaga keserakahan manusia yang tega menghanguskan rumah makhluk lain demi menanam benih investasi.
Tentu ini sangat ironis ketika manusia kerap mendapuk dirinya sebagai puncak peradaban, namun justru bertindak bagai pemangsa tanpa belas kasihan bagi penghuni asli hutan.
Orang utan dan ribuan satwa liar lainnya tidak pernah menandatangani persetujuan atas ekspansi industri, tetapi merekalah yang dipaksa membayar biaya mahal dengan nyawa mereka.
Mereka terjebak dalam sangkar kabut asap beracun yang diciptakan oleh tangan-tangan dingin yang berlindung di balik meja-meja keputusan.
Penderitaan Orang Utan “Sempurna” di detik-detik terakhir hidupnya adalah lambang dari sekaratnya ekosistem.
Rasa sesak yang meremukkan dadanya adalah gema dari napas bumi yang kian megap-megap terdesak oleh deforestasi masif.
Sering kali kita dibutakan oleh ilusi kemajuan, hingga lupa bahwa setiap pohon yang tumbang dan setiap jengkal tanah yang terbakar sedang mengikis fondasi keselamatan spesies di masa depan.
Berulangnya tragedi Karhutla setiap musim kemarau adalah bukti telanjang dari tumpulnya taring penegakan hukum di negeri ini.
Selama aksi membakar lahan masih dipandang sebagai obral jalan pintas yang murah dan hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul pada korporasi besar, maka hutan akan terus menjadi panggung jagal. Sanksi formalitas tidak akan pernah cukup untuk membayar hilangnya sebuah spesies yang tak ternilai harganya.
Kematian satwa endemik ini harus menjadi pemantik revolusi kesadaran kolektif. Tidak boleh lagi bersikap dingin dan menganggap penderitaan alam sebagai tumbal yang lumrah bagi pembangunan ekonomi.
Pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat harus mengambil sikap tegas untuk memutus mata rantai pengrusakan ini, bukan sekadar meratap ketika bangkai satwa sudah terbujur kaku.
Pada akhirnya, gugurnya Orang Utan “Sempurna” meninggalkan jelaga hitam pada reputasi kemanusiaan. Jika jemari manusia yang memantik api kehancuran di rumah mereka, maka menjadi kewajiban moral mutlak untuk memadamkan egoisme tersebut.
Jangan biarkan nurani ikut padam bersama asap Karhutla, hingga kelak hanya menyisakan hutan yang sunyi senyap sebuah pemakaman hijau tanpa suara kehidupan.
Tulisa ini sebagai bentuk keprihatinan mendalam terkait matinya Orang Utan “Sempurna” seperti yang ramai diberitakan
Penulis
Devanza Fathian Ardianta
Pelajar SMA Taruna Nusantara
Tempat Tinggal Kota Pontianak
Kelahiran Pontianak, 27 Juli 2010

BACA JUGA
