Perempuan Mahardhika Samarinda Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Tolak Militerisme di Dunia Kerja

May Day 2026: Perempuan Mahardhika Samarinda Soroti Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Militerisme di Dunia Kerja
May Day 2026: Perempuan Mahardhika Samarinda Soroti Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Militerisme di Dunia Kerja (foto : IST)

SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Memperingati Hari Buruh Internasional 2026, organisasi Perempuan Mahardhika Samarinda mengeluarkan pernyataan sikap keras terhadap kondisi perempuan pekerja di Indonesia. Mereka menilai, di bawah kepemimpinan nasional saat ini, perempuan kelas pekerja masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan, diskriminasi, hingga ancaman militerisme di ruang kerja.

Dalam orasinya, mereka menekankan bahwa negara telah gagal menghadirkan kerja layak sebagai hak dasar warga negara.

Menagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Salah satu poin krusial yang disorot adalah realisasi janji politik Presiden Prabowo Subianto. Perempuan Mahardhika mempertanyakan target penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dinilai masih jauh dari kenyataan.

  • Kondisi Lapangan: Masyarakat masih dihadapkan pada sulitnya mencari pekerjaan yang tetap dan bermartabat.
  • Kualitas Kerja: Pemerintah didesak membuka pekerjaan formal yang berkualitas, bukan sekadar kontrak pendek atau kerja murah tanpa perlindungan.

Sistem Rekrutmen Seksis dan Diskriminatif

Perempuan Mahardhika menilai proses penyaringan tenaga kerja di Indonesia masih sarat akan prasangka patriarki.

  • Diskriminasi Fisik & Status: Perempuan kerap disaring berdasarkan usia, penampilan fisik, status perkawinan, hingga rencana memiliki anak.
  • Kelompok Tersingkir: Penyandang disabilitas, perempuan kepala keluarga, dan kelompok minoritas gender semakin sulit mengakses pekerjaan formal.
  • Stigma Kelas Dua: Dunia kerja dianggap masih memandang perempuan sebagai tenaga kerja yang mudah digaji murah dan mudah dikontrol.

Soroti Ancaman Militerisme dan Kekerasan

Organisasi ini juga mengkritik menguatnya pendekatan keamanan dalam tata kelola negara yang merambah ke dunia kerja.

  • Budaya Represif: Militerisme dinilai menjelma menjadi budaya kerja yang anti-kritik, anti-serikat, serta penuh intimidasi terhadap buruh perempuan.
  • Normalisasi Kekerasan: Pelecehan seksual, ancaman pemecatan saat hamil, hingga kriminalisasi buruh yang bersuara masih menjadi kenyataan pahit yang dialami jutaan perempuan.

6 Tuntutan Utama Perempuan Mahardhika Samarinda:

  1. Wujudkan Kerja Layak: Jaminan upah layak, bebas diskriminasi, serta perlindungan maternitas (cuti haid dan melahirkan).
  2. Tanggung Jawab Janji Politik: Mendesak pemerintah merealisasikan 19 juta lapangan kerja secara formal.
  3. Hapus Rekrutmen Seksis: Menolak syarat diskriminatif bagi perempuan dan kelompok disabilitas.
  4. Tolak Militerisme: Menuntut penghentian pendekatan represif terhadap gerakan rakyat dan buruh.
  5. Hapus Kekerasan di Tempat Kerja: Memastikan adanya mekanisme perlindungan korban dan hukuman tegas bagi pelaku kekerasan seksual.
  6. Serukan Persatuan: Mengajak perempuan pekerja terorganisir untuk melawan sistem yang menindas.

“Perempuan bukan tenaga kerja murah, bukan objek eksploitasi. Kami berhak atas kerja yang aman, setara, dan bermartabat,” tegas mereka dalam penutup pernyataan sikap tersebut.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses