10 Kebakaran Terjadi dalam Dua Pekan, Balikpapan Utara Perkuat Posko Kahutla
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Balikpapan Utara belum mereda. Dalam kurun sekitar dua pekan, sedikitnya 10 kejadian kebakaran tercatat di wilayah tersebut.
Jumlah itu menjadi alarm bagi Pemerintah Kecamatan Balikpapan Utara untuk memperketat pengawasan dan memperkuat langkah pencegahan, terutama di kawasan yang memiliki lahan terbuka dan rawan terbakar.
Camat Balikpapan Utara Umar Adi mengatakan data tersebut masih bersifat dinamis karena laporan kejadian di lapangan terus bergerak. Namun, angka sekitar 10 kejadian dalam waktu relatif singkat menunjukkan potensi karhutla perlu mendapat perhatian serius.
“Kalau sampai saat ini, data berjalan. Kurang lebih sekitar dua minggu yang lalu, di wilayah utara ada sekitar 10 kejadian. Mungkin saja data itu bergerak,” ujar Umar, Minggu 6 September 2026.
Penyebab Kebakaran Belum Dipastikan
Umar mengatakan pihak kecamatan belum dapat memastikan penyebab dari masing-masing kebakaran. Penentuan penyebab, termasuk dugaan adanya pembakaran lahan, menjadi kewenangan pihak berwenang yang melakukan penanganan dan pemeriksaan di lapangan.
Informasi sementara yang diterima kecamatan menyebutkan sejumlah kejadian berkaitan dengan lahan yang terbakar.
“Rata-rata sementara informasi yang kami terima memang karena terbakar. Walaupun ada dugaan-dugaan, saya belum berani menyampaikan secara pasti karena untuk memastikan penyebabnya bukan ranah kecamatan,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Kecamatan Balikpapan Utara menyiapkan penguatan posko karhutla sebagai bagian dari sistem pencegahan dan respons cepat.
Posko tersebut nantinya tidak hanya menjadi pusat penerimaan laporan, tetapi juga diharapkan mempercepat pemantauan kawasan rawan sekaligus koordinasi apabila muncul titik api.
Graha dan Karang Joang Jadi Perhatian
Umar menyebut tim penyuluh bencana karhutla dari Kodim 0905 juga direncanakan turun melakukan sosialisasi di sejumlah kawasan yang dinilai memiliki potensi kerawanan, termasuk wilayah Graha dan Karang Joang.
Upaya pencegahan, kata dia, selama ini telah dilakukan melalui koordinasi tiga pilar, yakni lurah, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, bersama ketua RT serta berbagai mitra di tingkat lingkungan.
“Prinsipnya, imbauan sudah dilakukan tiga pilar. Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas bersama ketua RT dan seluruh mitra sudah melakukan sosialisasi melalui rapat koordinasi, media sosial, maupun grup-grup RT,” jelasnya.
Namun, pemerintah menyadari pengawasan tidak mungkin hanya mengandalkan aparat. Keterlibatan warga menjadi penting karena masyarakat berada paling dekat dengan kawasan yang berpotensi terbakar.
Karena itu, posko karhutla nantinya akan diintegrasikan dengan jaringan warga dan ketua RT untuk memantau lahan-lahan yang mudah terbakar.
Pemetaan kawasan rawan juga akan menjadi bagian dari strategi tersebut. Dengan pemantauan lebih rutin, potensi kebakaran diharapkan bisa diketahui sejak dini sebelum api membesar dan meluas.
Warga Diminta Jadi Mata dan Telinga Pemerintah
Umar mengingatkan masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya pembakaran di kawasan yang kondisi lahannya mudah terbakar.
“Jangan mencoba melakukan apa pun yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Kalau melihat ada potensi kebakaran, segera informasikan kepada kelurahan atau ketua RT setempat agar koordinasi bisa dilakukan secara berjenjang,” tuturnya.
Ia menegaskan, apabila dalam penanganan di lapangan nantinya ditemukan pihak yang sengaja melakukan pembakaran, prosesnya akan dilakukan sesuai ketentuan dan aturan yang berlaku.
Penguatan pencegahan menjadi semakin penting di tengah kondisi cuaca kering yang meningkatkan risiko kebakaran. Sepuluh kejadian dalam sekitar dua pekan menjadi sinyal bahwa ancaman api di Balikpapan Utara tidak boleh dianggap sepele.
Pemerintah kecamatan, kelurahan, aparat keamanan hingga masyarakat harus bergerak dalam satu sistem pengawasan. Sebab, semakin cepat titik api diketahui, semakin besar peluang kebakaran dapat dipadamkan sebelum berubah menjadi karhutla yang lebih luas.
Bagi Balikpapan yang dikenal sebagai kota hijau, menjaga lahan dari ancaman api bukan sekadar urusan pemadaman. Pencegahan dan kewaspadaan warga menjadi benteng pertama sebelum api berubah menjadi bencana.
Penulis : Samsul
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
