Hotspot Karhutla Nasional Tembus 18.065 Titik, Kemenhut Tetap Siaga di 6 Provinsi
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Indonesia. Data terbaru Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi+) Kementerian Kehutanan menunjukkan 18.065 hotspot terpantau secara nasional pada 28 Agustus 2026, meningkat tajam dibandingkan 14.788 titik sehari sebelumnya.
Meski jumlah hotspot nasional naik, sejumlah provinsi mulai menunjukkan tren penurunan. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tetap menetapkan status siaga penuh dan memperkuat operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Enam wilayah tersebut yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.
Pemantauan SiPongi Kemenhut menggunakan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Data hotspot digunakan sebagai indikasi awal untuk menentukan lokasi yang perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti di lapangan.
Hotspot Kalteng dan Kalbar Melonjak
Lonjakan hotspot paling mencolok pada 28 Agustus terjadi di sejumlah provinsi Kalimantan.
Di Kalimantan Tengah, hotspot meningkat dari 5.041 menjadi 7.703 titik. Kalimantan Barat juga naik dari 2.165 menjadi 3.384 titik, sedangkan Kalimantan Selatan meningkat dari 899 menjadi 1.354 titik.
Kondisi tersebut menjadi dasar Kemenhut untuk memperkuat patroli dan operasi pemadaman di lapangan, terutama pada lokasi yang memiliki potensi penjalaran api.
Operasi mencakup patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan, mopping up, pendinginan, hingga dukungan operasi udara.
Hotspot Sumatera Mulai Menurun
Di tengah kenaikan hotspot secara nasional, sejumlah wilayah Sumatera justru mencatat penurunan.
Sumatera Selatan mengalami penurunan dari 1.281 menjadi 1.036 hotspot pada 28 Agustus.
Penurunan lebih signifikan terlihat di Riau dan Jambi. Riau yang sempat mencapai 491 hotspot pada 23 Agustus dan 447 hotspot pada 24 Agustus, turun menjadi 265 titik pada 28 Agustus.
Sementara Jambi yang sempat mencatat 437 hotspot pada 23 Agustus dan 361 titik pada 24 Agustus, turun menjadi 86 hotspot pada 28 Agustus.
Kemenhut menilai perkembangan tersebut menunjukkan adanya hasil dari pengendalian karhutla yang dilakukan secara bersama-sama. Namun, penurunan hotspot di sebagian wilayah tidak menjadi alasan untuk mengurangi kewaspadaan.
Enam Provinsi Jadi Fokus Operasi
Kemenhut terus mengerahkan tim gabungan di enam provinsi prioritas. Penetapan wilayah tersebut mempertimbangkan perkembangan hotspot, potensi penjalaran api, kondisi bahan bakar, risiko kebakaran gambut, serta dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.
Operasi diarahkan terutama pada lokasi yang berpotensi membuat api meluas, mendekati permukiman, mengganggu fasilitas publik, atau menimbulkan dampak asap.
Pada wilayah gambut, pemadaman dan pendinginan dilakukan berulang untuk memastikan bara di bawah permukaan benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
Selain operasi darat, pemerintah juga menyiagakan dukungan udara untuk water bombing dan patroli udara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus diupayakan di wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis.
Jarak Pandang Sejumlah Kota Terganggu Asap
Dampak karhutla juga terlihat dari kondisi jarak pandang di sejumlah ibu kota provinsi prioritas.
Berdasarkan pengamatan BMKG pada pagi 29 Agustus 2026, jarak pandang tercatat:
- Palangka Raya: 3 kilometer, berasap, pukul 07.00 WIB.
- Pontianak: 0,8 kilometer, berasap, pukul 06.30 WIB.
- Banjarmasin: 0,5 kilometer, berasap, pukul 08.00 WITA.
- Palembang: 6 kilometer, cerah berawan, pukul 07.00 WIB.
- Jambi: 0,8 kilometer, berasap, pukul 07.00 WIB.
- Pekanbaru: 2,5 kilometer, berasap, pukul 07.00 WIB.
Kondisi jarak pandang yang rendah menjadi perhatian karena asap karhutla dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.
Kemenhut Ingatkan Hotspot Bukan Berarti Titik Kebakaran
Kemenhut mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengartikan setiap hotspot sebagai kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi melalui penginderaan satelit. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi lapangan.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran dapat melapor melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected].
Kewaspadaan Belum Boleh Diturunkan
Perkembangan hotspot menunjukkan situasi karhutla masih sangat dinamis. Penurunan di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan menjadi sinyal positif, tetapi lonjakan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menunjukkan ancaman belum mereda.
Karena itu, Kemenhut menegaskan pengendalian karhutla tetap dilakukan secara intensif melalui kolaborasi Manggala Agni, pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan masyarakat.
Kunci pengendalian bukan hanya memadamkan api, tetapi memastikan titik-titik yang berpotensi menjadi kebakaran besar dapat ditemukan dan ditangani sedini mungkin.
Sumber : Siaran Pers Kemenhut
Editor : abraham Johan
BACA JUGA
