Dapur SPPG Didorong Gerakkan Ekonomi Lokal Balikpapan

Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo saat meninjau Dapur SPPG yang ada di Balikpapan Barat.(Foto:Samsul/Inibalikpapan.com)

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan tidak hanya diarahkan untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Di balik seporsi makanan yang tersaji, pemerintah ingin membangun rantai ekonomi yang melibatkan petani, peternak, pelaku UMKM hingga koperasi di daerah.

Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo mengatakan, pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memenuhi sejumlah standar, mulai dari peralatan memasak hingga penyimpanan bahan makanan.

Menurut dia, standar tersebut penting untuk memastikan proses pengolahan makanan berlangsung aman, higienis, dan dapat dipantau.

“Ompreng ini akan terlihat di CCTV. Kemudian peralatan juga ada standardisasi. Pemasakan nasi juga harus menggunakan alat yang sudah terstandardisasi,” kata Bagus, Rabu (12/8/2026).

Selain peralatan memasak, dapur SPPG juga dilengkapi fasilitas penyimpanan seperti chiller dan showcase. Fasilitas tersebut digunakan untuk menjaga kualitas bahan makanan yang akan diolah.

Bagus menjelaskan, sebagian bahan makanan biasanya disiapkan untuk kebutuhan beberapa hari. Namun, pola pengadaan tetap disesuaikan dengan kebutuhan dapur agar bahan yang digunakan tetap segar.

“Biasanya mereka satu hari belanja,” ujarnya.

Namun, menurut Bagus, aspek yang tidak kalah penting dari keberadaan dapur SPPG adalah bagaimana program MBG memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

Pemenuhan Kebutuhan Gizi

Pengadaan bahan makanan, kata dia, melibatkan berbagai pihak, termasuk vendor, petani, dan peternak. Dengan demikian, program MBG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga menciptakan permintaan terhadap produk-produk lokal.

“Yang paling penting sebenarnya, penerimaan bahan makanan ini juga melibatkan vendor, petani, dan peternak. Jadi, inilah yang disebut Presiden bahwa kita akan menggerakkan ekonomi, baik dari petani maupun UMKM,” jelas Bagus.

Konsep tersebut dinilai dapat menciptakan mata rantai ekonomi yang lebih panjang. Ketika dapur SPPG membutuhkan beras, sayuran, telur, daging, ikan, maupun bahan pangan lainnya, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi produsen lokal.

Bagus juga berharap keberadaan Koperasi Merah Putih dapat disinergikan dengan SPPG. Koperasi di tingkat desa diharapkan tidak hanya menjadi lembaga ekonomi, tetapi juga dapat mengambil peran dalam rantai pasok kebutuhan program MBG.

“Kemarin kita sudah menyampaikan dengan koperasi. Mudah-mudahan ada sinergitas antara Koperasi Merah Putih dengan SPPG atau dapur yang ada,” katanya.

Menurut Bagus, sinergi tersebut sejalan dengan tujuan pemerintah untuk menciptakan pergerakan ekonomi hingga tingkat desa.

Dengan begitu, manfaat MBG diharapkan tidak hanya dirasakan oleh anak-anak yang menerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang berada di belakang proses penyediaannya.

Satu piring makanan, dalam konteks ini, memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan gizi dengan kekuatan ekonomi lokal—agar program pemerintah tidak hanya mengisi perut, tetapi juga membuka ruang tumbuh bagi petani, peternak, UMKM, koperasi, dan masyarakat.***

Penulis : Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses