Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, dari Mata Air Asin Purba hingga Hutan Karst Bernilai Rp800 Juta

Geosite Mata Air Panas Asin Pemapak di Kampung Pemapak, Kecamatan Biatan
Geosite Mata Air Panas Asin Pemapak di Kampung Pemapak, Kecamatan Biatan (foto : Pemprov)

BERAU, Inibalikpapan.com – Rangkaian asesmen lapangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat resmi berakhir di Kabupaten Berau dengan menampilkan dua geosite unggulan yang menjadi bukti bahwa pelestarian warisan geologi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tim asesor menutup penilaian lapangan dengan mengunjungi Geosite Mata Air Panas Asin Pemapak di Kampung Pemapak, Kecamatan Biatan, serta Geosite Batu Gamping Dumaring di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kamis (9/7/2026).

Dua lokasi tersebut menampilkan keunikan geologi sekaligus praktik pengelolaan berbasis konservasi yang dinilai menjadi kekuatan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dalam upaya meraih pengakuan sebagai geopark.

Mata Air Panas Asin yang Langka

Geosite Mata Air Panas Asin Pemapak menjadi penutup yang istimewa dalam proses asesmen karena menghadirkan fenomena geologi yang sangat jarang ditemukan.

Berbeda dengan mata air panas pada umumnya, air yang keluar di lokasi ini memiliki rasa asin. Para ahli meyakini kondisi tersebut berasal dari air laut purba yang terperangkap di dalam lapisan batuan selama jutaan tahun, kemudian muncul kembali ke permukaan melalui rekahan batuan akibat aktivitas sesar geologi di kawasan Semenanjung Mangkalihat.

Secara ilmiah, mata air ini terbentuk pada batuan gamping Formasi Domaring yang diperkirakan berumur antara 1 hingga 3 juta tahun.

Selain menunjukkan adanya aktivitas panas bumi, geosite ini juga menjadi rekaman penting perjalanan geologi Kalimantan Timur dan perubahan bentang alam sejak masa purba.

Kedatangan tim asesor disambut Camat Biatan Rusdiansyah, Kepala Kampung Pemapak Heberly, serta masyarakat setempat.

Hutan Karst Hasilkan Ekonomi Rp800 Juta

Sementara itu, Geosite Batu Gamping Dumaring memperlihatkan bagaimana konsep geopark mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Koordinator Program Kolaborasi dan Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring, Nandang Muliana, menjelaskan kawasan batu gamping berusia sekitar 3 hingga 11 juta tahun tersebut menjadi penyangga utama ekosistem hutan karst yang kaya keanekaragaman hayati.

“Batugamping menjadi penyangga keberlangsungan hutan karst sekaligus mendukung kehidupan berbagai flora dan fauna di kawasan ini,” ujarnya. dikutip dari laman Pemprov.

Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), masyarakat mengembangkan berbagai bibit tanaman seperti ulin, mangrove, dan kapur secara berkelanjutan.

Program tersebut mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp800 juta, sekaligus menjaga kelestarian kawasan karst.

Geowisata Berbasis Masyarakat

Selain sektor perhutanan sosial, masyarakat juga mengembangkan Taman Gua Dumaring sebagai destinasi geowisata berbasis edukasi dan konservasi.

Konsep open trip yang diterapkan tidak hanya menawarkan pengalaman menjelajahi kawasan karst, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama pengelolaan wisata.

Pengembangan Geosite Dumaring dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga warisan geologi sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Langkah Menuju Pengakuan Geopark

Berakhirnya asesmen lapangan menjadi tahapan penting dalam proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Hasil evaluasi tim asesor diharapkan semakin memperkuat peluang kawasan ini memperoleh pengakuan sebagai geopark, sekaligus mendorong pelestarian warisan geologi, pengembangan geowisata berkelanjutan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan pengelolaan Geosite Pemapak dan Dumaring menunjukkan bahwa konsep geopark tidak hanya berfokus pada perlindungan kekayaan geologi, tetapi juga mampu menciptakan keseimbangan antara konservasi lingkungan, pariwisata, dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses