Hutan Dumaring hingga Labuan Cermin Jadi Andalan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

Danau Labuan Cermin di Kampung Biduk-Biduk, Kabupaten Berau
Danau Labuan Cermin di Kampung Biduk-Biduk, Kabupaten Berau (foto : Pemprov)

BERAU, Inibalikpapan.com – Usai meninjau Gua Mengkuris di Kabupaten Kutai Timur, Tim Penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat melanjutkan verifikasi lapangan ke dua geosite unggulan di Kabupaten Berau, yakni Kawasan Hutan Dumaring dan Danau Labuan Cermin, Rabu (8/7/2026).

Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang diharapkan mampu meraih pengakuan lebih tinggi sebagai kawasan warisan geologi, hayati, dan budaya berkelas dunia.

Berau-Kutim Bersinergi Kembangkan Geopark

Rombongan tim penilai disambut Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, di Rest Area Kawasan Hutan Dumaring.

Ia menegaskan pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Berau, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

“Kami berharap kawasan ini menjadi warisan yang mampu memajukan Kabupaten Berau dan Kutai Timur, sekaligus tetap terjaga kelestariannya,” ujar Muhammad Said, dikutip dari laman Pemprov.

Menurutnya, Kabupaten Berau memiliki 15 geosite yang tersebar mulai dari kawasan hulu, pesisir hingga pulau-pulau kecil yang menjadi kekuatan utama pengembangan geopark.

Hutan Dumaring Jadi Benteng Keanekaragaman Hayati

Dalam peninjauan tersebut, tim mendapat paparan mengenai Hutan Dumaring, kawasan hutan lindung yang berada di bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Ekosistem kawasan ini bergantung pada batuan gamping sebagai penyangga utama. Karena itu, aktivitas penambangan batu kapur dinilai berpotensi merusak keseimbangan alam dan mengancam keberlangsungan habitat satwa maupun tumbuhan endemik.

Data pengelola menunjukkan Hutan Desa Dumaring menjadi rumah bagi sedikitnya:

  • 257 jenis satwa, termasuk 61 spesies terancam punah.
  • 224 jenis tumbuhan, dengan 10 spesies berstatus terancam punah.

Sejumlah satwa langka yang hidup di kawasan ini antara lain orangutan Kalimantan, burung rangkong, serta kucing merah Kalimantan. Sementara vegetasinya didominasi pohon ulin, meranti merah, meranti kuning, asam lahung, hingga berbagai jenis anggrek khas hutan hujan tropis Kalimantan.

Anggota Tim Penilai Geopark, Prof. Mega Fatimah Rosana, menegaskan bahwa tujuan pengembangan geopark tidak hanya menjaga kawasan, tetapi juga mendorong pendidikan, konservasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi berkelanjutan.

Labuan Cermin, Danau Dua Rasa yang Jadi Andalan Berau

Usai dari Hutan Dumaring, tim melanjutkan penilaian ke Geosite Danau Labuan Cermin di Kampung Biduk-Biduk.

Rombongan disambut Camat Biduk-Biduk, Cipto Suprapmono, bersama pemerintah kampung dan pengelola wisata.

Ia mengatakan Labuan Cermin merupakan ikon wisata Kabupaten Berau yang didukung kekayaan bentang alam lain seperti pantai, gua, kawasan karst, serta keanekaragaman hayati yang menjadi bagian dari Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Penggagas Kelompok Pengelola Wisata Labuan Cermin, Ramli, menjelaskan danau yang ditemukan pada 1912 itu memiliki fenomena alam yang sangat langka.

Lapisan atas danau merupakan air tawar yang berasal dari mata air kawasan karst, sedangkan lapisan bawah berupa air asin yang masuk dari laut. Kedua lapisan tersebut tidak bercampur sehingga Labuan Cermin dikenal sebagai “Danau Dua Rasa.”

Nama Labuan Cermin sendiri berasal dari kata labuan yang berarti pelabuhan dan cermin yang menggambarkan kejernihan air danau yang memantulkan bayangan layaknya kaca.

Sudah Berstatus Warisan Geologi Nasional

Ramli juga mengusulkan jungkung, perahu tradisional masyarakat pesisir Berau, sebagai ikon Geosite Labuan Cermin guna memperkuat identitas kawasan.

Selain menjadi destinasi wisata unggulan Kalimantan Timur, Danau Labuan Cermin telah ditetapkan sebagai Warisan Geologi (Geoheritage) melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 187.K/GL1/MEM.G/2024.

Pengelolaannya dilakukan bersama masyarakat dengan mengedepankan prinsip konservasi dan pariwisata berkelanjutan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan warga tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Prof. Mega Fatimah Rosana menilai setiap geosite perlu memiliki identitas yang kuat agar lebih mudah dikenali wisatawan sekaligus meningkatkan nilai edukasi dan daya tarik kawasan.

“Pengelolaan geopark tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Setiap geosite harus memiliki identitas yang kuat agar semakin dikenal wisatawan,” ujarnya.

Dengan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan, Hutan Dumaring dan Danau Labuan Cermin menjadi dua aset penting yang memperkuat peluang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat meraih pengakuan di tingkat yang lebih tinggi.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses