Geosite Tanjung Sinondok Berau Masuk Sorotan Tim Penilai Geopark, Simpan Jejak Samudra Purba 130 Juta Tahun
BERAU, Inibalikpapan.com – Geosite Kompleks Batuan Pra-Tersier Tanjung Sinondok di Kampung Teluk Sumbang, Kabupaten Berau, kembali menjadi perhatian dalam proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Kawasan ini dinilai memiliki keunikan geologi kelas dunia karena menyimpan bukti bahwa sebagian Pulau Kalimantan pernah menjadi dasar samudra purba sekitar 130 hingga 90 juta tahun lalu.
Potensi tersebut ditinjau langsung Tim Penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat saat melakukan verifikasi lapangan di Tanjung Sinondok, Kamis (9/7/2026).
Tak hanya menawarkan panorama pantai yang berpadu dengan hutan primer, mangrove, pulau-pulau kecil, dan terumbu karang, kawasan ini juga menyimpan warisan geologi, keanekaragaman hayati, hingga kekayaan budaya yang menjadi modal penting menuju pengakuan sebagai geopark berkelas dunia.
Mata Air Tawar Muncul dari Dasar Laut
Salah satu fenomena paling unik di Geosite Tanjung Sinondok adalah munculnya mata air tawar dari pori-pori batuan di bawah laut.
Fenomena alam yang tergolong langka tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena jarang ditemukan di kawasan pesisir lainnya. Keunikan itu dinilai berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata geologi sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan.
Bukti Kalimantan Pernah Menjadi Dasar Samudra
Dari sisi ilmiah, Tanjung Sinondok merupakan singkapan batuan ofiolit yang terbentuk di dasar samudra sekitar 130–90 juta tahun silam.
Keberadaan batuan tersebut menjadi bukti penting dalam sejarah pembentukan Pulau Kalimantan.
Atas nilai ilmiahnya, kawasan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Geologi (Geoheritage) melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 187.K/GL.01/MEM.G/2024.
Kaya Budaya dan Keanekaragaman Hayati
Kepala Kampung Teluk Sumbang, Badrie Husni Setiawan, mengatakan Tanjung Sinondok tidak hanya kaya akan warisan geologi, tetapi juga memiliki nilai budaya yang masih dijaga masyarakat setempat.
Salah satunya adalah Batu Kaparai atau Batu Padi, yang menjadi bagian dari cerita rakyat suku Dayak Basap mengenai kesuburan tanaman padi.
Selain itu, kawasan Gunung Hantu di sekitar geosite juga menjadi habitat bunga rafflesia yang saat ini sedang mekar.
“Terdapat Batu Kaparai atau Batu Padi yang menjadi bagian dari cerita masyarakat Dayak Basap. Mitos tersebut menceritakan kesuburan tanaman padi di kawasan ini. Selain itu, Gunung Hantu juga memiliki bunga rafflesia yang sedang mekar,” ujar Badrie, dikutip dari laman Pemprov.
Budaya Lokal Dinilai Perkuat Nilai Geopark
Anggota panel asesor Geopark, Prof. Mega Fatimah Rosana, menilai narasi budaya dan cerita rakyat harus menjadi bagian penting dalam pengembangan Geosite Tanjung Sinondok.
Menurutnya, perpaduan antara warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal akan memperkuat daya tarik Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai destinasi wisata edukasi bertaraf internasional.
Ia menegaskan, konsep geopark tidak hanya berbicara mengenai batuan atau bentang alam, tetapi juga bagaimana masyarakat menjaga, memanfaatkan, dan menceritakan warisan tersebut kepada dunia.
Dengan kekayaan geologi yang langka, fenomena mata air tawar di bawah laut, kisah budaya Dayak Basap, hingga keberadaan flora endemik seperti rafflesia, Geosite Tanjung Sinondok menjadi salah satu aset penting yang memperkuat peluang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat meraih pengakuan sebagai geopark berkelas dunia.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
