Karhutla Meluas di Kalimantan, Hetifah: Jangan Tunggu Asap Lumpuhkan Masyarakat
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali meluas di sejumlah wilayah Kalimantan mulai menjadi alarm serius. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mendesak pemerintah tidak hanya fokus memadamkan api, tetapi juga segera menyiapkan perlindungan bagi masyarakat yang berpotensi terdampak asap.
Hetifah menegaskan, karhutla tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai persoalan kebakaran hutan dan lahan. Ketika asap mulai mengganggu jarak pandang, aktivitas warga, penerbangan hingga mengancam kesehatan, maka persoalan tersebut telah berkembang menjadi ancaman keselamatan masyarakat.
“Ini bukan lagi sekadar soal api di hutan dan lahan. Ketika asap sudah mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat dan penerbangan, serta berpotensi mengganggu kesehatan warga, maka keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” ujar Hetifah, Jumat (21/8/2026), dikutip dari laman DPR.
750 Hotspot Terdeteksi dalam Tiga Hari
Ancaman karhutla terlihat dari lonjakan signifikan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, pada 19 Agustus 2026 tercatat 518 hotspot tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya.
Sementara secara kumulatif selama periode 17–19 Agustus 2026, tercatat 750 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut.
Lonjakan titik panas ini menjadi indikasi meningkatnya risiko kebakaran meluas jika deteksi awal tidak segera ditindaklanjuti dengan verifikasi dan pemadaman di lapangan.
Kaltim Catat 936 Hektare Terbakar
Kalimantan Timur juga menghadapi peningkatan kejadian karhutla.
Berdasarkan data BPBD Kalimantan Timur per 19 Agustus 2026, tercatat 413 titik karhutla dengan total luas lahan dan hutan terbakar mencapai 936,95 hektare.
Kabupaten Kutai Barat menjadi salah satu daerah dengan dampak signifikan. Tercatat 72 lokasi karhutla dengan luas area terbakar mencapai 415,51 hektare.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.
“Sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, saya tentu sangat prihatin. Kaltim juga menghadapi peningkatan karhutla. Kita tidak boleh menunggu sampai dampaknya semakin besar baru kemudian bergerak,” tegasnya.
Jangan Hanya Padamkan Api, Warga Harus Dilindungi
Hetifah mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mengerahkan personel gabungan, memperkuat pemadaman darat, menggunakan teknologi water bombing, hingga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca.
Namun, ia menilai strategi penanganan tidak boleh berhenti pada upaya memadamkan titik api.
Pemerintah daerah, kata Hetifah, harus bersiap menghadapi dampak asap terhadap masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Pemadaman api harus terus dilakukan, tetapi masyarakat yang terdampak asap juga harus dilindungi. Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan fasilitas kesehatan, ketersediaan masker yang sesuai, informasi kualitas udara, serta perlindungan khusus bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang rentan terhadap dampak kesehatan,” katanya.
Hotspot Harus Langsung Ditindaklanjuti
Politikus asal Kalimantan Timur itu juga meminta BNPB bersama BPBD memperkuat sistem komando dan koordinasi di wilayah yang mengalami peningkatan karhutla.
Menurut Hetifah, setiap titik panas yang terdeteksi tidak boleh hanya berhenti sebagai data pemantauan. Hotspot harus segera diverifikasi dan ditindaklanjuti di lapangan sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.
“Yang kita perlukan adalah respons cepat berbasis data. Hotspot harus segera diverifikasi di lapangan. Jangan sampai ada jeda terlalu panjang antara deteksi, laporan, dan pemadaman,” ujarnya.
Risiko Karhutla Masih Panjang hingga Oktober
Hetifah mengingatkan bahwa ancaman karhutla belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi minim pertumbuhan awan masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Kalimantan. Sementara musim hujan diperkirakan baru berpotensi datang sekitar pertengahan Oktober.
Kondisi tersebut berarti masih terdapat periode risiko cukup panjang bagi sejumlah wilayah Kalimantan.
“Artinya, kita masih memiliki periode risiko yang panjang. Jangan hanya berpikir bagaimana memadamkan api hari ini. Pemerintah harus menyiapkan skenario menghadapi kemungkinan karhutla berulang sampai kondisi cuaca kembali membaik,” pungkas Hetifah.
Dengan ratusan hotspot dan ratusan hektare lahan yang telah terbakar, Hetifah menekankan penanganan karhutla harus bergeser dari pola respons setelah api membesar menjadi respons cepat sejak titik panas pertama terdeteksi.
Sebab, ketika asap mulai menyebar dan aktivitas masyarakat terganggu, penanganan karhutla bukan lagi semata-mata tentang menyelamatkan hutan dan lahan, tetapi juga melindungi keselamatan warga.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
