Ketua MPR Ahmad Muzani Sentil Demokrasi di Era Digital: Keras dalam Gagasan, Jangan Saling Menghina
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyoroti pentingnya membangun budaya demokrasi yang lebih beradab di tengah derasnya arus informasi digital.
Pesan itu disampaikan Muzani dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Jumat (14/8/2026).
Muzani menegaskan, demokrasi Indonesia dibangun di atas ruang untuk menyampaikan aspirasi dan perbedaan pandangan. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan etika dan tanggung jawab.
“Kita telah memilih jalan demokrasi dalam mengelola aspirasi dan pandangan yang berbeda,” ujar Muzani, dikutip dari channel akun youtube Sekretariat Presiden,
Ia mengingatkan, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Kritik dan perdebatan politik tetap harus disampaikan dengan bahasa yang baik.
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu hendaknya disampaikan dengan budi dan bahasa yang baik,” katanya.
Muzani kemudian mengutip pesan pujangga Melayu Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas yang menurutnya masih relevan dengan kehidupan demokrasi saat ini.
“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa,” ujarnya mengutip Raja Ali Haji.
Menurut Muzani, demokrasi tidak akan semakin kuat hanya karena masyarakat semakin keras dalam mencela pihak yang berbeda pandangan.
Sebaliknya, demokrasi akan kokoh ketika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab, kemerdekaan menyampaikan pendapat dibangun dengan argumentasi, serta perbedaan tidak berubah menjadi penghinaan.
Teknologi Digital Jadi Tantangan Demokrasi
Muzani juga menyinggung perubahan ruang demokrasi akibat perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, teknologi telah membuka ruang partisipasi publik yang jauh lebih luas. Masyarakat kini dapat menyampaikan pendapat, memperoleh informasi, sekaligus terlibat langsung dalam perdebatan mengenai berbagai persoalan bangsa.
Namun, ruang digital juga membawa ancaman baru.
Teknologi yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, manipulasi informasi hingga kabar bohong dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, Muzani mengingatkan agar kebebasan di ruang digital tidak berkembang menjadi kebebasan tanpa batas yang merusak kehidupan sosial.
“Kita tidak boleh membiarkan ruang publik dipenuhi bahasa yang merendahkan martabat manusia,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan dan pandangan politik tidak sampai merusak hubungan antarmasyarakat.
Menurutnya, perbedaan politik tidak semestinya menjadi alasan untuk memutus persahabatan, memecah keluarga, ataupun menanamkan kebencian antarsesama anak bangsa.
Keras dalam Gagasan, Santun dalam Penyampaian
Muzani kemudian mengajak seluruh elemen bangsa membangun budaya politik yang lebih dewasa dan beradab.
Ia merumuskan prinsip tersebut dalam tiga sikap utama: keras dalam gagasan tetapi santun dalam penyampaian, teguh dalam pendirian tetapi terbuka terhadap musyawarah, serta berani mengkritik tanpa kehilangan penghormatan kepada sesama.
“Marilah kita membangun budaya politik yang lebih beradab, yang berciri: keras dalam gagasan, tapi santun dalam penyampaian; teguh dalam pendirian, tapi terbuka terhadap musyawarah; berani mengkritik, tapi tidak kehilangan penghormatan kepada sesama,” pungkasnya.
Penulis : Abraham Johan
Editor Abraham Johan
BACA JUGA
