Layanan Konsumsi Jemaah Haji Disiapkan Dua Fase, Dijamin Aman dan Bergizi

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Persiapan pelayanan konsumsi bagi jemaah haji terus dimatangkan, termasuk untuk keberangkatan dari Embarkasi Balikpapan.


Pihak pengelola memastikan bahwa makanan yang disajikan tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga aman dikonsumsi selama penerbangan jarak jauh.


General Manager Airport Angkasa Pura Balikpapan, Dian Ferry Hartanto, menjelaskan bahwa layanan konsumsi dibagi dalam dua fase, yakni saat keberangkatan dan saat kepulangan. Dalam setiap penerbangan, jemaah akan mendapatkan dua kali layanan makan (meal service) serta satu kali makanan ringan (snack).


“Di masing-masing penerbangan, kami siapkan dua kali makan utama dan satu snack. Untuk setiap makan utama, tersedia dua pilihan menu bagi jemaah,” ujar Dian dalam keterangannya.


Menu yang disajikan dirancang lengkap, mulai dari makanan pembuka (appetizer), hidangan utama, hingga penutup (dessert). Sementara untuk makanan ringan, disiapkan dalam bentuk snack yang praktis namun tetap memperhatikan kebutuhan energi jemaah selama perjalanan.


Dian menegaskan, pemilihan menu tersebut bukan tanpa pertimbangan. Seluruh hidangan telah melalui proses kurasi ketat dan perhitungan standar gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan penumpang, khususnya jemaah haji.


“Standarisasi menu sudah diperhitungkan secara matang. Kami bekerja sama dengan Garuda Indonesia yang turut mengkurasi makanan ini. Bahkan, menu yang sebelumnya sudah baik akan kami tingkatkan kualitasnya khusus untuk penerbangan haji,” katanya.


Selain kualitas menu, aspek keamanan makanan juga menjadi perhatian utama. Dian menjelaskan bahwa sistem penyimpanan dan penyajian dilakukan dengan metode khusus agar makanan tetap layak konsumsi hingga tiba di tujuan.

Layanan Makan


Untuk layanan makan pertama, makanan disajikan dalam kondisi dingin (chilled) dengan suhu antara 0 hingga 5 derajat Celsius. Sementara itu, makanan untuk layanan kedua disimpan dalam kondisi beku (frozen) dan akan melalui proses pencairan (thawing) selama penerbangan.


“Dengan metode ini, makanan tetap aman selama perjalanan kurang lebih sembilan jam hingga sampai di tujuan,” jelasnya.


Ia berharap, dengan persiapan yang matang ini, para jemaah dapat menjalani perjalanan ibadah dengan lebih nyaman, tanpa perlu khawatir terhadap kebutuhan konsumsi.

Pelayanan konsumsi yang baik, menurut Dian, merupakan bagian penting dari upaya memberikan pengalaman perjalanan yang layak dan manusiawi bagi jemaah. 


Di tengah perjalanan panjang menuju Tanah Suci, kehadiran makanan yang higienis, bergizi, dan disajikan dengan baik menjadi bentuk perhatian sekaligus penghormatan bagi para tamu Allah.


“Ini bukan sekadar layanan makan, tetapi bagian dari ikhtiar kami untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji,” tutupnya.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses