Film Animasi ‘Garuda di Dadaku’ Tayang Pertengahan Juni 2026, Libatkan Ratusan Animator Lokal

Teaser poster Garuda di Dadaku. (Foto: IMDB)

JAKARTA, inibalikpapan.com – Saat banyak rumah produksi mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses dan menekan biaya, tim di balik film animasi Garuda di Dadaku justru mengambil jalan berbeda. Film ini dibuat sepenuhnya oleh tangan manusia dengan melibatkan sekitar 500 animator lokal selama tiga tahun proses produksi.

Sutradara Ronny Gani menegaskan keputusan tersebut bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bentuk kepercayaan terhadap kualitas dan kreativitas talenta Indonesia.

Menurutnya, karya yang lahir dari sentuhan manusia memiliki emosi yang lebih kuat dan lebih mudah terhubung dengan penonton dibandingkan hasil yang sepenuhnya mengandalkan teknologi otomatis.

“Kalau yang menciptakan manusia, rasa yang sampai ke penonton juga akan lebih kuat,” ujar Ronny dalam konferensi pers di Jakarta, melansir Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Keputusan menolak penggunaan AI membuat skala produksi film ini menjadi sangat besar. Secara keseluruhan, Garuda di Dadaku melibatkan sekitar 550 kru, dengan mayoritas merupakan animator yang bekerja selama tiga tahun untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Tantangan Menggarap Garuda di Dadaku

Bagi produser Shanty Harmayn yang selama ini lebih banyak menangani film live action, proses produksi animasi menjadi pengalaman yang jauh berbeda. Jika film biasa dapat selesai dalam hitungan bulan, animasi membutuhkan kesabaran ekstra karena setiap detail harus dikerjakan satu per satu.

Tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal teknis animasi, tetapi memastikan cerita yang disajikan benar-benar dekat dengan kehidupan penonton Indonesia.

Untuk itu, tim produksi berkali-kali melakukan Focus Group Discussion (FGD) guna menguji respons audiens. Ketika ada bagian cerita yang dinilai kurang kuat, tim harus rela mengulang pekerjaan yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.

Beberapa revisi bahkan memaksa animator kembali ke tahap awal dan mengulang pekerjaan hingga dua sampai tiga bulan demi menghasilkan kualitas cerita yang lebih baik.

Meski tidak memiliki anggaran sebesar studio animasi Hollywood, Ronny menerapkan metode kerja yang pernah dipelajarinya saat berkarier di industri film internasional.

Sebelum mulai mengerjakan adegan di komputer, para animator diminta mendengarkan rekaman suara para aktor lalu memeragakan emosi karakter tersebut secara langsung. Metode ini dilakukan agar setiap gerakan karakter terasa lebih hidup dan natural di layar.

Bukan Sekadar Remake

Garuda di Dadaku versi animasi bukan sekadar menghidupkan kembali film legendaris yang populer pada 2009. Film ini menghadirkan cerita baru tentang Putra, seorang anak penderita asma yang memiliki mimpi besar menjadi pesepak bola profesional.

Melalui perjuangan Putra, film ini membawa pesan tentang keberanian melawan keterbatasan, kerja keras, dan keyakinan bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja.

Dijadwalkan tayang mulai 11 Juni 2026, Garuda di Dadaku tidak hanya menjadi tontonan keluarga, tetapi juga simbol bahwa industri animasi Indonesia mampu berkembang dengan kekuatan sumber daya manusia lokal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada teknologi kecerdasan buatan.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses