MBG Balikpapan Variasikan Olahan Telur, Kapasitas Produksi Jadi Tantangan

Kepala SPPG Baru Ulu, Muhammad Rizqanulhaq

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan mulai memperluas variasi menu untuk meningkatkan penerimaan siswa. Salah satu yang menjadi perhatian adalah olahan telur, menyusul masukan dari siswa yang menilai menu tersebut terlalu sering disajikan dalam bentuk yang sama.

Kepala MBG Kampung Baru Ulu, Muhammad Rizqanulhaq, mengatakan evaluasi terhadap menu dilakukan dengan mempertimbangkan selera siswa tanpa mengabaikan kebutuhan gizi.

“Banyak keluhan dari siswa mungkin terkait variasi telur. Jadi kita mencoba variasikan telur,” kata Rizqanulhaq.

Jika sebelumnya telur lebih banyak disajikan sebagai telur ceplok atau telur dadar, pengelola kini mencoba mengembangkan sejumlah olahan lain. Di antaranya sate telur dan rolade telur yang mulai dimasukkan dalam menu MBG.

Menurut Rizqanulhaq, variasi tersebut diperlukan agar siswa tidak cepat bosan. Bagi pengelola, makanan bergizi tidak cukup hanya memenuhi komposisi nutrisi. Makanan juga harus mampu diterima dan dinikmati anak-anak agar program berjalan secara optimal.

Ada 2000 Porsi Disiapkan

Namun, upaya memperkaya menu berjalan beriringan dengan tantangan lain. Saat ini dapur MBG Kampung Baru Ulu melayani sekitar 1.000 porsi. Ketika jumlah penerima manfaat bertambah hingga sekitar 2.000 porsi, kapasitas produksi dan pembagian waktu kerja relawan diperkirakan menjadi persoalan yang harus diantisipasi.

“Kalau misalnya sudah 2.000 porsi, mungkin bakal berat di produksinya. Jadi mungkin kita akan membagi tim produksi dari pagi dan malam,” ujarnya.

Pembagian tim menjadi salah satu opsi untuk menjaga proses produksi tetap berjalan tanpa membebani relawan. Dengan jumlah porsi yang meningkat, setiap tahapan mulai dari persiapan bahan, memasak, pengemasan hingga distribusi membutuhkan pengaturan waktu yang lebih ketat.

Distribusi makanan juga menjadi perhatian. Makanan mulai dikirim ke sekolah penerima manfaat sekitar pukul 08.00 WITA. Pengelola meminta makanan segera dibagikan dan dikonsumsi siswa setelah tiba di sekolah.

Rizqanulhaq mengimbau makanan sebaiknya dikonsumsi sekitar satu jam setelah pengantaran dan tidak dibawa pulang. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kualitas makanan hingga dikonsumsi.

Perluasan MBG dengan demikian bukan sekadar soal menambah jumlah porsi. Di balik satu kotak makanan, ada persoalan menu, kapasitas dapur, tenaga produksi, waktu distribusi, hingga kedisiplinan dalam penyajian.

Di situlah program ini diuji: bagaimana memastikan setiap anak menerima makanan yang bergizi, aman, sekaligus membuat mereka mau menikmatinya. Sebab, kepedulian kepada anak tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang ia hadir dalam seporsi makanan yang disiapkan dengan teliti—sebuah cara sederhana untuk mengatakan bahwa tumbuh sehat adalah hak setiap anak dan masa depan mereka layak diperjuangkan.***

Penulis : Samsul

Editor : Ranadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses