Masjid at Taqwa Balikpapan

MUI Serukan Aktivitas Kerumunan Keagamaan Ditunda Demi Tekan Laju Covid-19

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com –  Majelis Ulama Indonesia ((MUI) meminta aktivitas ibadah di masjid, mushala, tempat ibadah publik yang bersifat kerumunan seperti pengajian, majelis taklim, tahlil, istighatsah kubra, dan sejenisnya untuk sementara dihentikan, demi menekan laju penyebaran wabah Covid-19.

Hal ini tertuang dalam Taushiyah MUI tentang Pelaksanaan Ibadah, Shalat Idul Adha, dan Penyelenggaraan Qurban saat PPKM Darurat yang mulai diterapkan pada 3-20 Juli 2021 menyikapi perkembangan Covid-19 t yang kembali melonjak.

Khususnya untuk daerah yang lonjakkan kasus covid-19 tinggi. Sementara di daerah yang terkendali, MUI meminta penyelenggaraan ibadah dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Ini dilakukan untuk mencegah potensi terjadinya rantai penularan Covid-19.

“Masjid dan tempat ibadah tetap menyerukan adzan dan dilakukan petugas yang khusus dan rutin melakukan seruan adzan, tidak berhenti. Untuk shalat rawatib bagi jamaah umum dapat dilakukan di rumah masing-masing, ” bunyi taushiyah yang dirilis Sabtu (3/7).

Khusus untuk pelaksanaan shalat Jumat, mengacu pada Fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Shalat Jumat dan Jamaah untuk Mencegah Penularan Wabah Covid-19, dilakukan secara ketat dengan patuh protokol kesehataan. Shalat jumat hanya diikuti warga setempat saja.

“Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, maka di masjid tersebut tidak boleh diselenggarakan shalat Jumat dan umat Islam melakukan shalat Zuhur di rumah/kediaman masing-masing,” bunyi Taushiyah itu.

Taushiyah tersebut juga memberikan masukan kepada pengurus Masjid untuk mengoptimalkan masjid dan tempat ibadah sebagai sarana edukasi Covid-19. Masjid harus menjadi percontohan perbaikan umat dan keselamatan umat dengan tanpa melibatkan kerumunan.

“Pengurus masjid dapat mengoptimalkan masjid dan tempat ibadah sebagai sarana edukasi serta pertolongan kepada jamaah yang menjadi korban Covid-19 dengan berpegang kepada prokes yang ketat,” bunyi Taushiyah itu. (Azhar/ Nashih)

Comments

comments

Baca juga ini :  Berikut 48 Daerah di Jawa – Bali yang Terapkan PPKM Darurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.