Bank Indonesia Fokus pada Optimisme Jaga Stabilitas Ekonomi Daerah

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan Robi Ariadi

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Balikpapan menegaskan komitmennya memperkuat ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah tantangan global yang masih membayangi.

Di saat yang sama, BI juga optimistis inflasi di wilayah Kalimantan Timur tetap berada dalam kisaran target nasional hingga akhir 2026.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih menuntut lahirnya sumber-sumber pertumbuhan baru yang mampu menopang perekonomian daerah secara berkelanjutan. Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar adalah ekonomi syariah.

Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada sektor perbankan, tetapi mencakup seluruh ekosistem mulai dari keuangan sosial syariah, pengembangan produk halal, hingga pemberdayaan usaha mikro dan kecil.

“Ekonomi syariah memiliki peluang besar menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru apabila seluruh ekosistemnya diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).

BI Balikpapan terus mengoptimalkan pemanfaatan instrumen keuangan sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. Dana tersebut diarahkan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas melalui pembiayaan sektor produktif seperti pertanian, peternakan, hingga pengembangan UMKM.

Selain pembiayaan, BI juga aktif melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha halal melalui pelatihan, workshop, pendampingan, hingga fasilitasi promosi produk. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Robi mengungkapkan hingga saat ini sekitar 70 proyek binaan telah mendapatkan pendampingan sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah. Program tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan inovasi sekaligus memperluas jejaring pemasaran melalui kemitraan dengan berbagai agregator dan pelaku industri.

Sementara itu, terkait perkembangan inflasi, BI terus melakukan pemantauan terhadap dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang. Meski demikian, BI meyakini dampak tersebut masih dapat dikendalikan melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait.

Salah satu langkah yang terus diperkuat adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Perum Bulog. Program ini membantu menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok melalui subsidi distribusi sehingga beban masyarakat dapat ditekan.

“Hingga Mei 2026, Gerakan Pangan Murah telah dilaksanakan sekitar 130 kali. Program ini menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di daerah,” kata Robi.

Dengan berbagai upaya tersebut, BI Balikpapan optimistis inflasi hingga akhir 2026 tetap berada pada kisaran target nasional, yakni 2,7 hingga 2,9 persen. Stabilitas harga yang terjaga diharapkan mampu mendukung daya beli masyarakat sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Menurut BI, kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan akan menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan penguatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.***

Penulis : Samsul

Editor : Ranadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses