BGN Prioritaskan MBG di Daerah Stunting Tinggi, Tak Hanya Papua dan NTT

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (foto : Humas BGN)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan diprioritaskan di daerah dengan angka stunting tertinggi sebagai bagian dari strategi mempercepat penurunan prevalensi stunting nasional.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan pemerintah saat ini tengah menyinkronkan data bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menentukan wilayah yang menjadi prioritas intervensi gizi.

Menurutnya, pemetaan dilakukan secara rinci hingga tingkat desa agar pelaksanaan program benar-benar tepat sasaran.

“Sebagaimana saya sampaikan kemarin terkait daerah 3T, kami menyisir berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Sudah ada wilayahnya, provinsi mana, kabupaten mana, kecamatan mana, hingga desanya. Saat ini data tersebut sedang kami sinkronkan sehingga daerah yang menjadi prioritas dapat segera kami fokuskan, terutama wilayah yang memiliki angka stunting tinggi,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Tak Hanya Papua dan NTT

Sudaryono menegaskan prioritas MBG tidak hanya menyasar wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), tetapi seluruh daerah yang memiliki prevalensi stunting tinggi.

Ia mengungkapkan selain Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah juga menemukan sejumlah kabupaten di Pulau Jawa dan Sumatera yang masih menghadapi persoalan stunting serius.

“3T ini sama dengan angka stuntingnya tinggi. Enggak hanya di Papua, tapi juga di NTT, di beberapa wilayah yang lain, termasuk ada beberapa temuan di beberapa kabupaten di Jawa yang memang angka stuntingnya cukup tinggi,” katanya.

Karena itu, BGN akan memprioritaskan distribusi Program Makan Bergizi Gratis ke wilayah-wilayah tersebut agar penanganan gizi dapat dilakukan lebih cepat.

Fokus pada Kelompok Rentan

BGN menargetkan Program MBG menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, terutama anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di daerah dengan angka stunting tinggi.

Melalui pendekatan berbasis data, pemerintah berharap intervensi gizi menjadi lebih efektif sehingga mampu mempercepat penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

Sudaryono menegaskan, sinkronisasi data dengan Kementerian Kesehatan menjadi langkah penting agar pelaksanaan MBG tidak hanya merata, tetapi juga benar-benar menyasar daerah yang memiliki tingkat kerawanan gizi paling tinggi. Dengan demikian, program tersebut diharapkan memberikan dampak maksimal terhadap upaya pemerintah menekan stunting di Indonesia.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses