Di Tengah Banjir Informasi Digital, Perpustakaan Balikpapan Dituntut Jadi Benteng Literasi

Bazar Buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan
Bazar Buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan (foto : Inibalikpapan/Samsul)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Perpustakaan tak lagi cukup hanya menjadi tempat menyimpan buku dan membaca. Di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan dituntut berubah menjadi ruang belajar yang mampu membantu masyarakat memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan secara bijak.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi membuat penguatan budaya literasi semakin penting.

Menurutnya, kemudahan mengakses informasi melalui perangkat digital justru menghadirkan tantangan baru. Sebab, informasi yang beredar di ruang digital tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Literasi tidak semestinya dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis,” demikian pandangan yang ditekankan Neny dalam mendorong penguatan budaya literasi di Balikpapan.

Bukan Sekadar Bisa Membaca

Kemampuan literasi saat ini harus bergerak lebih jauh. Masyarakat dituntut mampu memahami informasi, memeriksa kebenarannya, memilah sumber, kemudian menggunakannya secara tepat.

Tantangan tersebut semakin besar bagi generasi muda yang setiap hari bersentuhan dengan media sosial dan berbagai platform digital.

Informasi yang hadir dalam hitungan detik membuat kemampuan membaca secara mendalam dan berpikir kritis menjadi semakin penting. Tanpa kemampuan tersebut, kemudahan memperoleh informasi justru berpotensi membuat masyarakat mudah menerima informasi yang keliru.

Karena itu, perpustakaan dinilai memiliki peran strategis untuk menjadi salah satu ruang yang memperkuat kemampuan tersebut.

Perpustakaan Harus Beradaptasi

Perubahan teknologi juga mendorong perpustakaan untuk mengubah cara berinteraksi dengan masyarakat.

Ruang perpustakaan tidak lagi cukup hanya dipenuhi rak dan koleksi buku. Perpustakaan dapat dikembangkan sebagai ruang bertemu, belajar, berdiskusi, sekaligus mengembangkan keterampilan.

Bagi Neny, teknologi bukan ancaman yang membuat perpustakaan kehilangan relevansi. Justru sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.

Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan tetap bisa menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat meski cara orang memperoleh informasi terus berubah.

Literasi Butuh Peran Bersama

Penguatan budaya literasi juga tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau perpustakaan.

Sekolah, keluarga, komunitas dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan yang mendorong kebiasaan membaca dan belajar.

Perpustakaan pada akhirnya diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan sepanjang hayat. Bukan sekadar penyedia bahan bacaan, tetapi ruang yang membantu masyarakat terus belajar dan memahami perubahan di sekitarnya.

Kemajuan literasi pun tidak semata-mata diukur dari jumlah buku yang dibaca.

Lebih penting dari itu adalah bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan, mengambil keputusan, menyaring informasi, dan bersikap bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan yang semakin cepat, kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat Balikpapan. Perpustakaan pun dituntut memastikan akses terhadap pengetahuan tetap terbuka, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan generasi yang terus berubah.

Penulis : Samsul

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses