Di Tengah Kelas Bocor, Bakti Komdigi Bawa Harapan Baru bagi Pendidikan Digital Maratua
MARATUA,Inibalikpapan.com – Di tengah pesona alam Pulau Maratua yang menjadi salah satu beranda terdepan Indonesia, SDN 001 Payung-Payung terus berupaya memberikan layanan pendidikan terbaik bagi para siswanya.
Namun di balik semangat tersebut, sekolah yang menjadi tempat belajar bagi 94 siswa itu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi bangunan yang memerlukan perbaikan hingga keterbatasan akses internet yang mendukung proses pembelajaran.
Sekolah yang memiliki lima ruang kelas dan satu ruang guru tersebut menjadi tumpuan pendidikan bagi masyarakat setempat. Salah satu ruang kelas bahkan terlihat mengalami kerusakan cukup serius. Atap bangunan bocor, plafon mulai runtuh, dan lantai di dalam ruangan masih dalam kondisi rusak sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di tengah keterbatasan sarana fisik tersebut, sekolah juga tengah berjuang menghadapi tantangan transformasi digital. Sebuah perangkat internet satelit milik BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital telah terpasang di lingkungan sekolah sebagai upaya mendukung akses pembelajaran berbasis teknologi.
Namun, dalam praktiknya, konektivitas internet yang tersedia dinilai masih belum mampu memenuhi kebutuhan pendidikan secara maksimal.

Wali Kelas 1 SDN 001 Payung-Payung, Hetty Ramlah, mengungkapkan bahwa jaringan internet dari BAKTI sering mengalami gangguan sehingga para guru lebih banyak memanfaatkan jaringan Wi-Fi Starlink yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Berau.
“Jaringannya sering putus nyambung. Kalau Bakti agak lambat dan kadang hilang-hilangan, jadi jarang dipakai. Kami lebih sering menggunakan Wi-Fi Starlink dari Pemkab karena lebih stabil dan lebih cepat,” ujarnya saat ditemui awak media, Kamis (11/6/2026).
Menurut Hetty yang juga bertugas sebagai bendahara sekolah, para guru harus pandai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Berbagai kebutuhan administrasi sekolah maupun pembelajaran daring tetap harus berjalan meski akses internet belum sepenuhnya memadai.
Kepala SDN 001 Payung-Payung, Bahridin, mengatakan bahwa akses internet merupakan kebutuhan penting bagi sekolah yang dipimpinnya. Dengan jumlah 13 guru yang melayani 94 siswa, konektivitas digital menjadi salah satu sarana utama untuk menunjang pembelajaran di era modern.
“Kami mengajukan bantuan internet ini sudah lama sekali. Alhamdulillah akhirnya mendapat perhatian dan dilakukan survei oleh pihak terkait,” kata Bahridin.

Sementara itu, Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital, Fadhilah Mathar, menjelaskan bahwa layanan internet yang saat ini digunakan sekolah berasal dari jaringan satelit SATRIA dengan kapasitas 4 Mbps.
Menurutnya, kapasitas tersebut memang masih terbatas apabila dibandingkan dengan kebutuhan ideal dunia pendidikan saat ini. Untuk mendukung proses pembelajaran digital secara optimal, kapasitas internet minimal yang dibutuhkan sekolah berada pada kisaran 20 Mbps.
“Untuk pendidikan yang maksimal, kapasitas internet idealnya berada di angka 20 Mbps. Kami memahami kebutuhan sekolah-sekolah di wilayah terluar seperti Maratua yang membutuhkan dukungan konektivitas lebih baik,” ujarnya.
Selain mendukung kegiatan belajar mengajar, akses internet satelit juga memiliki fungsi strategis sebagai jalur komunikasi darurat, terutama bagi wilayah kepulauan yang rentan menghadapi gangguan cuaca maupun bencana alam.
Kondisi SDN 001 Payung-Payung menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di wilayah terdepan Indonesia. Di balik ruang kelas yang membutuhkan perbaikan dan keterbatasan akses digital, terdapat dedikasi 13 guru yang terus berjuang memastikan 94 siswa mendapatkan pendidikan yang layak.
Harapan besar kini tertuju pada peningkatan fasilitas sekolah dan kapasitas internet agar anak-anak Pulau Maratua dapat menikmati kesempatan belajar yang setara dengan daerah lain di Indonesia.***
BACA JUGA
