Stunting Bisa Turun 1,6 Juta Kasus, Riset Ini Ungkap Solusi yang Juga Hemat Triliunan Rupiah

Riset Baru: Intervensi Nutrisi Padat Gizi Terbukti Efektif Tekan Stunting
Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.

JAKARTA, inibalikpapan.com,– Stunting masih menghantui masa depan jutaan anak Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur yang angka stuntingnya masih mencapai 22,2 persen. Namun riset terbaru mengungkap sebuah intervensi nutrisi padat gizi berpotensi mencegah 1,6 juta kasus stunting sekaligus menghemat biaya kesehatan hingga triliunan rupiah.

Bagi banyak keluarga, masalah gizi sering dianggap hanya berkaitan dengan tinggi badan anak. Padahal dampaknya jauh lebih besar.

Anak yang mengalami stunting, wasting, atau underweight cenderung lebih rentan terserang berbagai penyakit infeksi dan lebih sering membutuhkan pengobatan. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang dalam jangka panjang.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia yang sedang menyiapkan Generasi Emas 2045.

Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Kalimantan Timur masih berada di angka 22,2 persen.

Riset Internasional Temukan Cara Menekan Stunting Lebih Cepat

Harapan baru datang dari penelitian yang dipresentasikan dalam ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

Penelitian berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy tersebut dipaparkan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.

Penelitian itu menyoroti manfaat pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF). Formula nutrisi padat gizi ini dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak yang mengalami masalah nutrisi.

Hasilnya cukup mencolok.

Analisis menunjukkan intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi: Stunting 34,5 persen, Wasting 72,7 persen, dan Underweight hingga 51,7 persen.

Jika diterapkan secara luas, program ini diperkirakan dapat mencegah sekitar: 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, serta 1,9 juta kasus underweight di Indonesia.

Manfaat terbesar ternyata tidak berhenti pada perbaikan status gizi.

Penelitian tersebut menemukan bahwa anak yang mendapat asupan nutrisi yang cukup memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit infeksi. Penyakit ini selama ini banyak menyerang anak-anak yang mengalami gizi kurang.

Berdasarkan model penelitian yang dikembangkan, kasus: Tuberkulosis (TB) berpotensi turun 47,2 persen, Pneumonia turun 44,7 persen, ISPA berkurang sekitar 2,6 juta kasus, hingga Diare berkurang sekitar 2 juta kasus

Artinya, semakin baik status gizi anak, semakin kecil pula kemungkinan keluarga harus menghadapi biaya pengobatan akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Potensi Hemat Lebih dari Rp12 Triliun

Dampak lain yang menarik perhatian adalah manfaat ekonominya.

Penelitian tersebut memperkirakan penghematan biaya kesehatan yang dapat dicapai akibat berkurangnya berbagai penyakit infeksi pada anak.

Rinciannya meliputi: Rp2,46 triliun dari penanganan TB, Rp3,88 triliun dari pneumonia, Rp2,40 triliun dari ISPA, dan Rp3,38 triliun dari diare.

Total potensi penghematan mencapai lebih dari Rp12 triliun.

Menurut Muh. Akbar Bahar, manfaat intervensi nutrisi tidak hanya terlihat pada peningkatan berat badan atau tinggi badan anak.

“Ketika seorang anak memperoleh nutrisi yang cukup, manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar peningkatan berat atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan pengobatan berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” ujarnya.

Bagi Kalimantan Timur, upaya menekan stunting memiliki arti strategis. Daerah ini mempersiapkan generasi muda agar siap menghadapi persaingan di masa depan. Selain itu, daerah ini juga berperan sebagai wilayah penyangga IKN yang membutuhkan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.

Karena itu, berbagai intervensi berbasis bukti ilmiah yang mampu memperbaiki status gizi anak berpotensi menjadi bagian penting dalam mempercepat penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Jika masalah gizi dapat ditekan sejak dini, manfaatnya tidak hanya dirasakan anak-anak saat ini, tetapi juga menentukan kualitas generasi yang akan memimpin Indonesia pada 2045.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses