Mendiktisaintek Tegaskan Tak Ada Kewajiban Kampus Kelola Dapur MBG, Dipersilakan Jika Bersedia

JAKARTA, inibalikpapan.com – Kampus dan mahasiswa berpotensi mendapat peran baru dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto membuka peluang perguruan tinggi mengelola dapur MBG sekaligus menjadikannya laboratorium praktik dan penelitian.

Menurut Brian, sejumlah kampus telah mulai mengembangkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari konsep teaching factory, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan layanan gizi masyarakat.

Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Brian menjelaskan dapur MBG dapat menjadi sarana pembelajaran lintas disiplin.

Mahasiswa dapat mempelajari manajemen operasional, pengelolaan pangan, kesehatan masyarakat hingga penelitian tentang dampak program terhadap kualitas gizi penerima manfaat.

“Ada beberapa kampus yang membuat SPPG dalam rangka teaching factory, dalam rangka mahasiswa praktik, sekaligus diteliti,” kata Brian, melansir Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Melalui pendekatan tersebut, kampus tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga berperan langsung mendukung program strategis pemerintah.

Tidak Ada Kewajiban Kampus Mendirikan Dapur MBG

Meski membuka peluang besar, Brian menegaskan pemerintah tidak mewajibkan seluruh perguruan tinggi membangun dapur MBG.

Ia memastikan hingga saat ini tidak ada surat edaran maupun kebijakan yang mengharuskan kampus mendirikan SPPG.

Menurutnya, keterlibatan kampus bersifat sukarela sesuai kapasitas dan kesiapan masing-masing perguruan tinggi.

“Kami tidak pernah mengeluarkan kebijakan bahwa setiap kampus harus mendirikan SPPG,” ujarnya.

Kampus Didorong Meneliti Dampak MBG terhadap Stunting

Selain terlibat dalam operasional dapur, perguruan tinggi juga didorong melakukan penelitian jangka panjang mengenai efektivitas Program Makan Bergizi Gratis.

Riset tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan status gizi, penurunan angka stunting, hingga pengaruh program terhadap kesehatan dan perkembangan anak.

Brian menilai peran akademisi sangat penting karena dampak program seperti MBG tidak bisa diukur dalam waktu singkat.

“Kampus dapat membantu menyediakan data ilmiah sehingga program ini terus diperbaiki berdasarkan hasil penelitian,” katanya.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses