Penjualan Rumah Baru di Balikpapan Membaik, tapi Masih Anjlok 50,66 Persen

Kompleks Balikpapan Baru
Kompleks Balikpapan Baru (foto : Inibalikpapan)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Pasar properti residensial di Balikpapan mulai menunjukkan tanda perbaikan pada triwulan II 2026. Namun, pemulihan tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat penjualan rumah baru dari tekanan.

Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat sebanyak 75 unit rumah baru terjual pada triwulan II 2026. Angka itu naik tipis dibandingkan triwulan I 2026 yang sebanyak 72 unit.

Meski secara kuartalan membaik, penjualan rumah baru secara tahunan masih terkontraksi 50,66 persen (yoy). Penurunan ini memang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 55,56 persen.

Data tersebut merupakan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan Kantor Perwakilan BI Balikpapan. Survei melibatkan 30 pengembang dan menunjukkan pasar rumah baru masih menghadapi permintaan yang terbatas.

Harga Rumah Baru Naik, tapi Hanya 1,19 Persen

Di tengah lemahnya penjualan, harga rumah baru di Balikpapan tetap mengalami kenaikan, meski relatif terbatas.

Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan II 2026 tercatat 107,58, atau tumbuh 1,19 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,44 persen.

Kenaikan harga terutama terjadi pada rumah tipe menengah. Harga rumah tipe ini tumbuh 0,46 persen (yoy), meningkat dari 0,38 persen pada triwulan sebelumnya.

Sebaliknya, kenaikan harga rumah tipe besar dan kecil justru melandai. Tipe besar tumbuh 2,02 persen, turun dari 2,93 persen, sedangkan tipe kecil tumbuh 1,71 persen, turun dari 1,85 persen pada triwulan sebelumnya.

BI Balikpapan menyebut kenaikan harga rumah baru dipengaruhi meningkatnya biaya bahan bangunan dan tenaga kerja. Pengembang kemudian melakukan penyesuaian harga untuk mengompensasi kenaikan biaya tersebut.

Rumah Tipe Kecil Paling Banyak Diburu

Meskipun penjualan secara tahunan masih tertekan, seluruh segmen rumah menunjukkan perbaikan secara kuartalan.

Penjualan rumah tipe kecil tumbuh 8,3 persen (qtq), berbalik dari kontraksi 47,1 persen pada triwulan sebelumnya.

Tipe menengah mencatat perbaikan lebih besar dengan pertumbuhan 17,6 persen (qtq) setelah sebelumnya turun 29,2 persen. Sementara tipe besar masih mengalami penurunan 15,8 persen, tetapi lebih baik dibandingkan kontraksi 29,6 persen pada triwulan sebelumnya.

Dari total penjualan, rumah tipe kecil masih menjadi pilihan utama konsumen dengan kontribusi sekitar 52 persen. Berikutnya tipe menengah 27 persen dan tipe besar 21 persen.

Dominasi tipe kecil menunjukkan konsumen Balikpapan masih cenderung memilih rumah dengan harga lebih terjangkau di tengah keterbatasan daya beli dan tingginya kebutuhan hidup.

72 Persen Pembeli Mengandalkan KPR

Tekanan pasar properti juga terlihat dari pola pembiayaan. Sebagian besar pembelian rumah baru di Balikpapan masih bergantung pada kredit perbankan.

Sebanyak 72 persen unit rumah yang terjual dibeli menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sementara pembayaran tunai bertahap mencapai 24 persen dan transaksi tunai hanya 4 persen.

Sejalan dengan itu, penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan II 2026 mencapai Rp5,01 triliun, tumbuh 2,27 persen (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp5 triliun dengan pertumbuhan 1,87 persen.

Kualitas kredit juga masih terjaga dengan tingkat non-performing loan (NPL) di bawah 5 persen.

Namun, sejumlah persoalan masih membayangi pasar perumahan Balikpapan. Di antaranya kenaikan harga bahan bangunan, kualitas pinjaman calon konsumen, kendala perizinan dan birokrasi, keterbatasan lahan untuk rumah tapak, serta kecenderungan masyarakat menahan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berjaga-jaga.

Properti Komersial Justru Relatif Stabil

Sementara pasar rumah baru masih menghadapi tekanan penjualan, kondisi berbeda terlihat pada properti komersial.

Berdasarkan Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom), BI Balikpapan mencatat Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) pada triwulan II 2026 sebesar 105,70.

Secara tahunan, IHPK hanya turun 0,02 persen, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 0,10 persen.

Perbaikan terutama ditopang segmen ritel yang mencatat pertumbuhan harga 0,03 persen (yoy). Segmen hotel juga membaik, dengan penurunan harga hanya 1,61 persen, jauh lebih landai dibandingkan kontraksi 3,63 persen pada triwulan sebelumnya.

BI Balikpapan menilai stabilnya properti komersial berkaitan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi di Balikpapan. Sejumlah faktor pendukungnya antara lain mulai beroperasinya industri hilirisasi CPO, berlanjutnya pembangunan IKN, proyek hilirisasi industri, hingga penyelesaian revamp Kilang Pertamina Balikpapan.

Aktivitas meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) serta kegiatan kedinasan turut menopang permintaan hotel. Namun, sektor perkantoran masih menghadapi permintaan yang terbatas.

Prospek Properti Masih Positif

BI Balikpapan menilai prospek sektor properti ke depan masih positif seiring berlanjutnya proyek hilirisasi industri yang memasuki tahap persiapan operasional.

Kebijakan makroprudensial, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), juga terus diperkuat untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas, termasuk perumahan.

Dengan demikian, pasar properti Balikpapan menghadapi situasi yang cukup kontras: harga rumah baru masih naik, penjualan mulai membaik secara kuartalan, tetapi permintaan tahunan masih tertekan tajam. Di sisi lain, properti komersial mulai menunjukkan stabilitas seiring menguatnya aktivitas ekonomi dan pembangunan kawasan strategis di sekitar Balikpapan.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses